Orang Tua yang Keras

Seorang anak pada dasarnya seperti kertas putih yang bersih ketika dilahirkan. Dia akan tumbuh dan memiliki kepribadian masing-masing. Kepribadian mereka sangat bergantung dengan lingkungannya selama dia hidup terutama lingkungan keluarga. Orang tua sebagai orang yg pertama kali dikenal oleh si anak, sebagai orang yg bertanggung jawab untuk memelihara si anak, berperan besar terhadap bentuk psikologi anak. Orang tua harus bisa menjaga jangan sampai anak tidak menemukan kebahagiaan di rumah, jangan sampai anak sungkan untuk terbuka dengan orang tuanya. Karena kita tidak akan pernah tau seberapa amankah orang di luar keluarga yang menampung segala keluh kesah anak. Seberapa amankah orang di luar keluarga mengajak anak menemukan kebahagiaan.

Terlalu mengekang, sangat membatasi ruang pendapat anak, ketidak adilan antar anak dan saudara kandungnya, kekerasan fisik, omoongan-omongan yang sangat menyinggung, dan terlalu memaksakan impian kita terhadap masa depan anak. Tidak. Gue berjanji tidak akan melakukan hal - hal tersebut ke anak gue nantinya. Gue tau betul bagaimana rasanya. Gue ga mau anak gue menjadi seperti gue yg tidak punya pilihan, yang dipaksa melewati masa sekolahnya hanya dengan belajar dan belajar. Gue ga mau anak gue seperti gue yang akhirnya berani berbohong ke orang tuanya untuk bersenang - senang dengan temannya. Gue ga mau anak gue seperti gue yang lebih terbuka dengan teman temannya daripada keluarga. Gue ga mau. Gue ga mau anak gue akhirnya tidak menemukan kebahagiaan di keluarganya sendiri dan akhirnya mencari kebahagiaannya di luar. Ini sungguh sangat berbahaya. Kalau saja anak gue tidak kuat iman dia akan terbuai dengan kebahagiaan yg berasal dari syaiton. Kebahagiaan yg justru menggiring anak ke dalam jurang kehancuran.

Kekerasan fisik dan omongan omongan yang menyinggung itu hal utama yg ga boleh anak gue rasain. Memukul mungkin perlu tapi gue mau memukul anak sesuai dengan yang islam ajarkan. Gue tidak mau anak gue nantinya merasakan sakitnya sabetan sebuah kayu, rotan, gagang sapu, ikat pinggang, ujung dari sapu lidi mendarat di tubuhnya bahkan sampai berbekas. Gue tidak mau anak gue nantinya merasakan rambutnya ditarik oleh orang tuanya sendiri, sentilan, cubitan, jeweran, tamparan yang bertubi tubi. Gue ga mau anak gue nantinya ngerasain lelah nya di strap berdiri sambil mengangkat kursi kayu yang berat. Gue ga mau anak gue merasakan sakitnya di dorong keras sampai terjatuh hanya karena ingin ikut berkemah di sekolahnya. Gue juga ga mau anak gue nantinya merasakan hatinya terluka karena jerih payahnya di katain b*ji***n oleh orang tuanya atau di remehkan meskipun mereka belum memenuhi impian gue untuk menjadi yang terbaik. Gak, gue ga mau anak gue merasakan itu semua. Jangan. Sekeras mungkin gue harus menjaga anak2 gue nantinya dari hal2 seperti itu.

Selama ini pelampiasan gue hanya menumpahkan seluruh rasa yang gue pendam, seluruh emosi yang tertahan ke dalam sebuah karya dan diary, atau gue curhat dengan sahabat gue. Gue menuliskan apa yang ada di hati dalam bentuk puisi, diary, blog, gambar, dan status sosmed, serta doa kepada Allah. Kadang gue juga curhat ke sahabat2 gue. Sayangnya, tidak semua orang sama dalam menanggapi curhatan, tulisan, dan gambar gue.  Ada orang yang menganggap gue drama queen dan berpikir curhatan gue hanya isapan jempol belaka. Curhatan gue itu cuma karangan gue untuk daoet perhatian. Sekarang sih gue bisa bilang, “ayo kalo ga percaya, rumah gue terbuka kok 24 jam buat lo biar lo tau gimana sifat orang tua gue. Lo harus sering2 main biar lo tau orang tua gue gimana”. Mereka adalah sosok yang tidak pandang waktu dan tempat untuk memarahi atau menghukum anaknya. Terserah mau bilang apa yang pasti ada kok orang orang yang akhirnya simpati ke gue. Dan rasa simpati itu lah kebahagiaan buat gue. Membuat gue merasa ada kok yg peduliin gue. Membuat gue merasa punya sandaran hati dikala sedih.  

Gue kadang berpikir, iya gue memang berlebihan. Cara gue untuk mencari kebahagiaan ini salah. Tapi di sisi lain gue merasa bodo amat gitu, bagaimana lagi cara gue bahagia. Ya, ada satu cara sih yaitu dengan menikah. Dengan menikah orang tua gue udah ga ada hak dalam hidup gue. Hidup gue sepenuhnya ada di suami gue. Makanya, gue pengen punya suami yg tidak seperti orang tua gue yang terlalu mengekang tanpa memberikan alasan buat gue, kek misal gue waktu itu pengen jalan sama temen gue ke ragunan terus dilarang tapi ga ada alasan. Atau sudah mengijinkan gue lalu tiba tiba di hari H-3 atau bahkan di hari H mereka membatalkan ijin tersebut, contoh kek waktu gue mau ke bandung sama temen temen cewe gue. Gue ijin dari jauh hari dan diijinin, sampe gue beli koper pun mereka tau dan ga ada masalah. Tiba tiba di hari H-7 setelah semua sudah di rencanain….. gue dilarang ikut tanpa alasan. Otomatis temen2 gue kecewa dan batal pergi karena ga ada gue. Banyak sekali larangan2 yang seperti itu, kadang sekalinya kasih alasan ya ga masuk akal. Kek waktu gue mau ikut ekskul PMR, gue dilarang karena orang tua takut gue salah kasih obat. Ya begitulah. Waktu ada festival sepeda hias, gue pun dilarang ikut semasa sekolah. Akhirnya gue dulu beberapa kalj berbohong supaya bisa ikut, supaya bisa jalan sama temen gue yaa walaupun seringnya ketauan dan gue kena hukuman sih.

Gue kira cuma gue yang punya orang tua seperti itu. Tapi 4 hari lalu, gue menemukan seorang anak yang bernasib sama dengan gue. Seorang anak yang sangat gue benci karena tingkah lakunya yang gatel banget jadi cewe dan suka cari cari perhatian. Tapi untungnya ahjusi pernah kerap kali ingetin gue buat keep khusnudzon. Jadi gue mengeyampingkan suudzon gue dan mulai berpikir kelakuan anak itu pasti ada alasannya. Mungkin dia ga bahagia di rumahnya. Dan iya setelah gue komunikasi sama anak itu, bener aja dia ga bahagia di rumahnya. Orang tua dia sama kek orang tua gue. Tapi disini gue bersyukur ga cari kebahagiaan gue dengan cara kegatelan sama banyak cowo. Gue bisa memfilter cowo mana yang benar2 bisa masuk di hidup gue.

Selama ini kesalahan gue cuma 3 dalam menanggapi masalah ini.
  1. Gue pernah bilang “aku benci ibuku sendiri” kepada temen temen gue.
  2. Pernah berfikir dan merencanakan untuk kabur dari rumah
  3. Menggantungkan ketentraman hati ke pacar (sekarang mantan)
Itu kesalahan gue yang menurut gue bodoh. Sangat amat bodoh.

Semakin bertambahnya usia gue membuat gue semakin dewasa untuk berpikir. Gue mencari tau, menganalisa kenapa orang tua gue seperti ini ke gue. Akhirnya gue menemukan satu jawaban yang masuk akal.

Tidak ada orang tua yang tidak menyayangi anaknya.

Setiap orang tua pasti memiliki mimpi seperti apa anaknya nanti ke depannya. Yang jelas mereka bermimpi anqknya menjadi manusia yang sukses, baik, bqhkan lebih baik dari dirinya. Ibarat anak adalah dadu, jika orang tua memiliki lebih dari satu dadu, mereka akan menimbang serta mengukur potensi dari setiap dadu. Tapi orang tua tetap hanya manusia biasa yang bisa salah dalam perhitungan. Hanya Allah yg Maha adil dan Bijaksana bukan?

Satu lagi, orang tua tetaplah anak bagi orang tua mereka. Mereka juga pernah jadi dadu. Seperti halnya gue yang memfilter cara didik orang tua gue untuk gue terapin ke anak gue nantinya. Begitupun orang tua gue ketika mendidik gue. Mereka pasti memfilter dari cara didik orang tua mereka. Jadi bisa saja nih apa yg gue rasain saat ini hanyalah secuil perasaan yang dirasain orang tua gue dulu. Sebagai seorang anak seharusnya gue bisa mengerti keadaan orang tua gue. Beribu materi yang gue berikan ga akan oernah cukup untuk membalas jasa mereka membesarkan gue, terutama kepada seoran IBU. Jadi sebagai anak jangan pernah berpikir apa yang membuat hati menjadi pqnas, tapi berpikirlah hikmah dari semua ini. Tidak semuanya merugikan kita kok aturan oranng tua karena dasarnya aturan itu tujuannya baik. Seperti gue yang selalu dipaksa buat jadi yang terbaik selama masa sekolah, harus rangking 1, harus kuliah 3.5 tahun walaupun itu sangat menjengkelkan prosesnya tapi ketika semua itu udah gue penuhi, gue juga merasakan keuntungannya.

Tidak ada kebetulan di dunia ini. Semua sudah diatur Allah dan sudah menjadi bagian takdir kita. Begitu pun takdir gue memiliki orang tua yang keras seperti itu. Gue yakin oranng tua gue sangat teramat menyayangi gue, dan mereka punya cara sendiri untuk mengungkapkannya. Makanya meski pun begitu gue tidak akan pernah sampai hati kalau orang tua gue menderita apalagi karena gue. Gue sangat menyayangi mereka. Bisa aja kan gue laporin mereka ke KPAI. Tapi gue ga mau, gue mencintai orang tua gue. Bagaimanapun mereka, pelukan terhangat di dunia ini buat gue adalah pelukan dari ibu dan bapak. 

I LOVE YOU IBU AND BAPAK...
Read More

Resign Kerja

Resign Kerja

Gila sih ini. Gue bener bener stress banget. Kemarin akhirnya gue lepas karir gue di kantor itu. Gue sebenernya bimbang dan kecewa. Bimbang apakah gue yg salah dalam hal ini atau apakah gue wajar seperti ini. Kecewa karena gue ga pengen lepas karir dengan cara seperti ini. Gue juga ga ngerti kenapa gue bisa diterima di kantor itu. Gue apply dengan menekankan kalo gue fresh graduate dengan pengalaman kerja yg tak berarti bahkan ga relevan. Itu pun apply gak sengaja sebenernya, karena kepencet waktu itu ketiduran pas lagi buka jobstreet di hp. Jelas di requirement tertulis kalo mereka butuh yang berpengalaman lebih dari 2 tahun. Percaya gak percaya gue dapet undangan interview nya. Gue menyanggupi dan saat itu di form yang dikasih bahkan saat interview gue menekankan gue fresh graduate, bahasa inggris gue ga lancar, gue mencari pengalaman, gue belum pernah pegang magento, belum pernah pegang opencart.  

Tanpa di test koding selayaknya perekrutan karyawan IT di kantor lainnya, besoknya gue dinyatakan diterima. Sebagai pencari kerja newbie jelas gue seneng banget dan langsung mengiyakan untuk taken contract. Gue begitu senengnya. Tapi semua itu berubah ketika gue udah mulai bekerja. Gue seperti anak ayam kehilangan induknya. Gue dijanjikan di training tapi nyatanya gue disuruh belajar magento sendiri. Bermodalkan buku tutorial magento yg dikasih pinjam teman gue, gue mencoba mempelajarinya sendiri. Tapi ternyata sulit sekali. Gue ga bisa langsung paham, ga bisa langsung ada bayangan alurnya bagaimana seperti ketika gue belajar CI dan laravel dan java android. Tiga minggu gue pun merasa bosan, gue kerjanya cuma mempelajari secara mandiri magento ini, dan gue masih bingung bgt. Kek yang rasanya tuh ga punya tujuan, stuck gitu aja gue di kantor itu. Rasa ingin resign mulai tumbuh tapi hati kecil gue masih bilang jangan jadi akhirnya setelah gue cerita ke manajer gue, gue pun diikut sertakan dalam proyek. Meskipun masih sekedar bantu benahin css gue merasa better gitu.

Sekitar 2 bulan berikutnya masalah itu pun terjadi. Masalah dimana salah satu teman gue menghilang dan ga pernah masuk kantor lagi. Tiba tiba, dirut gue dateng, marah2 dan bertanya ke gue kenapa gue ga gantiin tugasnya teman gue (sebut aja H) yg menghikang itu sementara client udah mulai protes ga dilayani. Gue langsung bingung karena memang sih walaupun si dirut ini pernah nyuruh H untuk mengajari gue kerjaan dia, nyuruh H mulai membagi tugasnya ke gue, itu tuh faktanya tidak pernah terjadi. H ga oernah ajari gue secuil pun. Alhasil gue bingung bgt disuruh ngerjain hal yg gue ga pernah tau dan harus selesai hari itu juga. Untung saja ada teman lain yg mau ajari gue dengan sabar. Ga sampai disitu. Kesal rasanya setelah tau si H ninggalin satu case issue di website client yg lama banget ga selesai2 sudah 3 bulan. Karena tugas nya H di tumbalin ke gue, gue pun jadi kena pelampiasan omelan dari client, dan dirut. Gue bener2 bingung saat itu, minta tolong ke yg udah pengalaman pun dia tidak tau dan tidak bisa nemuin solusinya. Ngerjain sendiri… gue ga paham alur dari website itu sebenernya. Karena gue butuh waktu lama menyelesaikannya akhirnya gue di cap tidak ngapa ngapain sama dirut gue. Sakit. Sakit rasanya. Padahal gue pelajarin betul2, mencoba berbagai cara supaya issue itu hilang. Ketika issue itu hilang, dan gue melapor haha bilang makasih oun nggak atasan gue tuh cuma bilang “oke”.

Mulai saat itu gue di cap ga ngapa2in mulu kalo ada issue bari dan gue butuh waktu untuk pelajari issue itu. Sakit loh rasanya ketika lo udah berusaha tapi di katain begitu. Ucapan pertama kali ga gue masukin hati. Ucapan yg kedua gue coba ikhlasin. Dan ucapan yg ketiga kalinya gue bener2 emosi. Ga suka gue caranya begitu.

Jadi… begini… sebelumnya gue udah bikang kan asal usul gue bisa gantiin H. Nah kejadian serupa terjadi lagi. Saat itu ada karyawan baru (sebut aja I). Atasan pun kasih I sbuah proyek yang katanya sudah jadi 80%. Entah kenapa I baru beberap hari kerja di situ malah jarang masuk. Hari ini masuk, besok nggak, besoknya masuk, lusa nggak. Seperti itu. Akhirnya proyek itu ditibanin ke gue. Tanpa arahan, tanpa dokumentasi gue disuruh menyelesaikan banyak hal di proyek itu. Hal hal yang baru buat gue. Tapi lagi lagi gue dituntut untuk sangat cepat menyelesaikannya. Andai gue bisa lemburin kerjaan itu, I mean sepulang kerja gue masih bisa ngerjain mungkin bisa cepat. Tapi gue bukan tinggal di kost-an yang hanya ngurusin ruangan sekamar aja. Gue tinggal di rumah dan banyak yg harus gue selesaikan. Apalagi jarak kantor dan rumah jauh. Jadi lah, karena I belum fix resign proyek itu dikerjakan oleh kami berdua. Tapi anehnya ketika pembagian tugas sama atasan gue, gue ditibanin lebih banyak sedangkan I hanya disuruh mengatur css saja. Padahal kalo di bandingkan, I jauh lebih berpengalaman dari gue.

Gue heran setelah mulai semakin dalam sama itu proyek. Katanya sudah 80% tapi kenapa banyak sekali hal hal yang belum dikerjain? Bahkan hal yg seharusnya gampang dikerjain menjadi sulit. Gue ga tau apakah orang yg dulu pegang proyek ini ada mengubah sesuatu di bagian core magento atau I sudah sempat mengubah sesuatu yang mengakibatkan seperti itu? Ya, proyek ini menggunakan suatu framework magento. Karena fungsi yg seharusnya bisa dilakukan dengan hanya memindahkan file dari base atau rwd ke theme yang diinstal, tidak bisa jalan. Dan suatu ketika atasan gue marah ke gue karena proyek itu tak kunjung selesai. Gue menjelaskan mengapa belum selesai tapi lagi lagi gue dibilang ga ngapa ngapain.

Suatu hari website yang gue handle (website peninggalannya si H) mengalami kendala. Gue pun akhirnya harus meninggalkan kerjaan di proyek itu lalu beralih ke website yg ada kendala supaya fokus. Gue paling benci kalo ada issue bari di website itu. Issue yg tidak pernah gue temui sebelumnya. Gue mencari apa yg salah di website itu. Mencari dan terus mencari. Mencoba berbagai cara yang gue temukan di sebuah forum. Bahkan gue meminta tolong temen gue yg berpengalaman. Tapi semuanya nihil. Atasan gue mulai tidak sabar dan marah2 ke gue. Gue mencoba menjelaskan tapi ah… gimana caranya menjelaskan suatu bug di program kepada orang yg tidak ada basic IT. Sepertinya memang susah ya, dan sepertinya apa yg harus gue jelasin bukan masalah yg terjadi itu kenapa tapi solusi untuk masalah itu yg harus gue jelasin ke atasan gue. Bahkan temen gue sendiri pun yg dipercaya “sakti” oleh atasan gue tidak mengerti solusinya apa. Sedangkan gue cuma punya waktu 3 hari lagi supaya issue itu hilang.

Setelah waktu tinggal 1 hari lagi, gue udah stress banget ga karuan. Pagi itu gue datang dan langsung nyalain komputer, tak seperti biasanya yg cari sarapan dulu atau dandan dahulu supaya muka gue ga terlihat pucat. Dan memang sudah 1 minggu komputer gue error sepertinya. Setiap selesai booting, browser yg gue buka butuh waktu 5 menit untuk terbuka dan itu langsung forced close gitu, gue harus berkali kali buka baru browser bisa berjalan dengan sempurna. Untuk software lainnya pun sama aja, not responding. Bahkan tiba tiba bisa freeze gitu komputer gue, kursor aja ga gerak. Nah pas lagi freeze gitu gue iseng lah corat coret kertas depan gue, nulis-nulis iseng, atau gambar2. Ketika itu setelah komputer gue normal gue langsung berkutat pada issue di website yg berkendala. Meja gue berantakan, itu lah gue kalo lagi fokus sesuatu meja atau wilayah kerja gue selalu berantakan oleh kertas atau buku2. Tiba2 atasan gue dateng. Dia menghampiri gue dan melihat gambar2 iseng gue di meja. Ketika itu, dia langsung menuduh gue tidak bekerja dan gambar2 saja. Okei, bisa dibilang gue apes saat itu. Hal ini semakin memperkuat kesimpulan atasan gue kalo selama ini gue tidak pernah berkerja. Oke, dan gue hanya bisa diam saat itu. Untuk ke 3 kalinya gue dibilang ga ngapa ngapain. Seharian gue ga makan, ga keluar dari kantor juga. Pas pulang kerja pun gue lemburin diri di rumah. Gue terus fokus sampe pusing kepala gue buat selesein issue itu. Dan alhamdulillah akhirnya gue menemukan solusi untuk issue itu dan akan gue kerjain besok pagi. Besoknya gue males bgt liat muka atasan gue, dan tekad gue untuk resign sudah bulat. Gue tidak masuk kantor dan menyelesaikan issue itu dari rumah. Issue pun hilang.

Besoknya gue pun melayangkan surat resign. Tadinya gue mau langsung cabut gitu aja tanpa surat resign, tanpa pamit. Tapi… temen2 gue menyarankan untuk menggunakan surat resign. Yasudah gue ikutin. Sore harinya, gue dipanggil HRD gue. Ya, singkat cerita gue ga jadi resign karena dibilang harus jaga komitmen, trus dijanjiin bakal dibantu untuk memperbaiki hubungan sama atasan. Gue juga bilang kalo gue ga nyaman kerja disitu, gue dipaksa untuk seperti seorang senior padahal gue bisa dibilang baru menetas sebagai seorang IT.

Besoknya, gue dipanggil atasan gue. Ah tapi memang atasan gue sepertinya bukan orang yg bisa menerima kritikan. Disitu gue dipojokkan, Dia berkata seakan gue lah yg salah 100%. Cara dia push gue itu benar, dan itu tantangan buat gue. Gue sempat berpikir ya.. munhkin gue lah yg salah. Dan atasan gue berkata lebih baik gue berpikir lagi untuk resign.

Oke lah, gue pun tidak jadi resign. Gue akan menyelesaikan kontrak. 4 bulan bukan waktu yg lama kan? Gue hanya ingin beritikad baik. Ads satu hari dimana finance memberikan uang lembur buat gue. Gue heran padahal gue ga pernah membuat surat apalah itu namanya biar uang lembur gue cair. Sengaja. Gue lebih baik kerja ikhlas. Kenapa? Karena terakhir gue terima uang lembur itu cuma 15ribu rupiah aja. Gak worth it buat dikata uang lembur. Mungkin ini cara kantor untuk membujuk gue tidak resign. Uang lembur gue dicairin, dan bener aja padshal gue lemburnya mah waktu itu dari jumat sepulang kantor, hari sabtu dari pagi sampai sore, dan hari minggu selama 4 jam tapi uang yang gue diterima adalah 30ribu rupiah saja. Gue sih ketawa aja nerimanya. Lucu. Tapi ya udah lah ya, gue hargai mungkin ini awal yg baik untuk memperbaiki hubungan gue dengan kantor. Tapi sayangnya hal yang menyakitkan itu terjadi lagi.

Ternyata di hari pertama gue meninggalkan proyek gue bersama I, itu lah hari terakhir I kerja di kantor itu. Dan setelah gue kembali masuk ke dalam proyek betapa terkejutnya gue, proyek itu kacau. Benar2 kacau. Banyak hal yg tadinya sudah selesai jadi berantakan lagi. Gue ga tau hal terakhir apa yg I perbuat. Gue pun dipanggil oleh atasan gue dan ya… atasan gue kembali marah. Dia bahkan menuduh gue memundurkan progress proyek yg sudah 80%. Ah, ingin gue berkata kasar rasanya. Tapi gue coba untuk sabar. Dan meminta maaf. Dan kembali menata apa yg telah kacau. Lagi lagi gue akhirnya butuh waktu, proyek itu tidak bisa cepat selesai.

Ada satu task yg memang gue buntu bgt. Guecurhat sama temen gue, dan dia bilang kalo gue harus ngomong ke atasan kalo emang ga bisa. Gue ga boleh diem diem aja. Ya akhirnya gue pun ikutin saran temen gue. Bukannya gue dikasih partner atau bala bantuan, eh atasan gue ddngan gampangnya menyuruh gue mempelajarinya sendiri. Ah apa mau dikata.

Suatu hari, atassn gue menyuruh gue untuk narik data di website yg dibuat dengan opencart. Gue belum pernah pegang opencart. Bahkan akses untuk masuk ke website itu saja gue ga punya. Gue bilang ke atasan kalo gue akan mencobanya tapi gue ga punya aksesnya. Atasan gue dengan ngegasnya, dengan nada tinggi berkata, “harus punya!” disitu gue freeze dan speechless. Loh? Apa salah gue? Harus punya? Harus punya bagaimana? Dari awal kan lu ga pernah kasih gue tanggung jawab di website itu. Gue bener2 bingung banget. Akhirnya gue cari cari aksesnya dan ketemu.

Harii itu gue sangat hectic. Di website yg gue tanggung jawabin ada issue, proyek juga gue dikejar waktu, di tambah tugas ini skrg. Singkat cerita gue 3 kali revisi ketika mengirimkan file hasil tarik data ke atasan gue. Gue akuin kali ini kesalahan gue yg tidak teliti. Tapi gue gak nyangka besoknya, atasan gue benar benar bisa semarah itu. Gue dipanggil dan dimarahin. Gue hanya bisa diam. Gue lagi lagi dibilang ga ngapa2in, hanya menghangatkan kursi gue, hanya kasih alasan, dan tidak ada tempat buat gue di kantor itu. Gue hanya bisa diam. Ya, mungkin selama ini gue memang tidak pernah melawan ketika atasan gue marah2. Tidak sama sekali. Gue hanya diam. Selesai dari itu, gue terdiam dan ga mood sama sekali. Gue sampe nangis ketika curhat sama temen gue. Dan per hari itu, gue sudah bulat untuk cabut gitu aja dari kantor itu. Gue ga mau kerja ditempat itu lagi. Tidak ada tempat buat gue di kantor itu. Kata-kata itu seolah gue yg butuh kantor itu, padahal kan yg nahan gue resign sebelumnya juga dia. Kenapa sih mulut dia racun banget.

Ah pusing kepala gue. Kenapa sih ujian gue ga berenti2. Kenapaaaa… tapi katanya Allah tau batas kemampuan gue, jadi gue pasti bisa lewatin ujian ini kan? Sedih aku tuh…. Kepala gue rasanya udah kek mau pecah gitu.
Read More

Don't Judge a Book by Its Cover

Langsung aja deh, gue ga tahan untuk mendem perasaan ini sendiri. Gue rasa ini cerita yang bagus untuk di share.

Jadi tadi di kereta, seperti biasa gue naik dari stasiun depok baru dan memilih di gerbong khusus wanita. Perjalanan ke stasiun tebet itu 30 - 40 menit lamanya. Untuk membunuh waktu, apalagi gue gak kebagian tempat duduk alias harus berdiri, biar ga kerasa capenya gue membaca novel yang sengaja gue bawa. Novel nya bagus, menceritakan the greatest woman bernama Hajar. Novel karya Sibel Eraslan ini mengambil kisah salah satu istri Nabi Ibrahim yang bernama Hajar. Gue betul-betul tenggelam dengan cerita dalam novel tersebut.

Gue benar-benar tenggelam dalam kisah ini. Kisahnya Hajar dalam novel inj panjang sekali kalo harus di sinopsiskan disini. Tiba - tiba ada suara perempuan tepat di sebelah gue membuyarkan semuanya.

"Halo mba... halo... permisi mba...", kata perempuan itu membuat gue reflek langsung bergeser ke kiri memberikan jalan untuknya.

Gue liat perempuan itu sekedar ingin tahu bagaimana rupanya dan mengapa ia meminta permisi tapi orang-orang tak bergeming.

"Halo mba.. permisi ya..", ulang perempuan itu tapi orang-orang masih tidak bergeming.

Setelah gue melihatnya... oh, pantas saja. Rambutnya cepak seperti laki laki. Hidungnya bertindik seperti tindik sapi. Telinganya pun ditindik dengan anting-anting bulat berwarna hitam khas laki-laki. Tangannya kanan dan kiri penuh tattoo yang kalau dihitung ada lebih dari 10 gambar tattoo (yang terlihat, yang tidak terlihat mungkin masih ada lagi). Dia pakai kaos hitam khas selera laki-laki dan celana panjang model untuk laki-laki pula. Dia menggendong ransel besar yang penuh isinya. Sebagai perempuan, dia jauh dari kata feminin. Bahkan bentuk fisik tubuhnya tidak terlihat seperti perempuan. (maaf) Dadanya sangat rata.

Tentu saja penampilannya menarik perhatian setiap orang dalam gerbong itu. Sebagian besar akan memandangnya negatif. Yah... wajar.. image perempuan seperti itu sudah sangat melekat di benak sebagian besar orang. Dari kecil kebanyakan orang tua akan mengajarkan hal yang dilakukan perempuan itu bukan hal yang benar dan harus dijauhi.

Tapi satu hal yang membuat perhatian gue lebih tertarik adalah ketika dibelakangnya perempuan itu menggendong ransel besar yang [enuh isinya, di depannya ia menggendong seorang bayi bertubuh gempal, lucuuu sekali, matanya berbinar, wajahnya berseri. Gue jadi pengen membelai lembut pipi bayi itu dan juga menciumnya. :) Apalagi dengan outfit hitam bermotif tulang tengkorak yang dipakainya membuat dia jadi tambah lucu. Ah... ntah mengapa gue senang melihatnya..

Perempuan itu ternyata permisi untuk meminta hak nya sebagai penumpang kereta yang membawa anak. Ya dia ingin kursi untuk duduk. Untungnya, seseorang mau merelakan kursinya. Perempuan itu pun duduk didepan gue.

Gue kembali membaca novel. Tapi pandangan gue bener-bener ga fokus ke novel sekarang. Mata gue terus menerus curi pandang ke anak itu. Gue sangat ingin berinteraksi dengan anaknya juga perempuan itu. Gue merasa kesal ketika si bayi menyentuh dan menepuk nepuk lengan perempuan di sebelahnya, peremouan itu sana sekali tidak memberi respon yg ramah. Dia hanya melirik saja. Ya... Ntah garis bibir apa yg tersembunyi dibalik maskernya. Kalo gue jadi dia pasti akan langsung gue ajak main itu bayi. Apa semua itu gara2 penampilan ibunya? Ah....ini nih yg dinamakan don't judge a book by its cover.

Gue terus menerus memperhatikan perempuan unik itu. Sampai novel gue pun gue tutup. Dibalik penampilannya yg jauh dari kata feminin dan keibuan, ternyata dia sangat keibuan. Diciumnya anaknya itu dengan lembut, dia juga mengajak ngomong anknya, dan kadang dia bersiul untuk anaknya.

Ketika anaknya menangis, dengan sabar ia mendiamkannya. Mungkin anaknya ingin ASI, maka dia pun cc ASI nya. Anaknya menyusu dengan tenang. Ya, bahkan perempuan itu mau memberikan ASInya. Benar benar keibuan.

Gue terenyuh melihat pemandangan ini. Seburuk buruknya wanita pasti punya naluri seorang ibu.

Gue jadi ingin bilang ke anaknya, "de kalo kamu udah besar nanti, ketika ibumu mengantarmu ke sekolah atau sekedar bermain bersama teman temanmu, apapun kata orang tentang ibumu jika itu negatif jangan pedulikan. Karena pada hari ini aku adalah saksi ibumu adalah orang yg menyayangimu dengan segala keterbatasannya. Sayangi ibumu de, rangkul dia. Sampai Allah memanggil ibumu, menghentikan nafasnya kamu harus tetap menyayangi ibumu. Jangan sakiti hatinya de, kamu harus ingat itu."

Ketika kereta sudah sampai di stasiun tebet, gue turun dari kereta. Tapi ada oerasaan yg tertinggal dalam hati ini. Setelah melihat itu, gue jadi berpikir jika perempuan seperti itu saja bisa keibuan, berarti gue yang selalu dinilai kekanakan ini bisa juga dong?

Ah ntah kenapa jadi melow gini. Gue jadi ada rasa rindu pengen liat gimana anak gue nantinya. Ingin rasanya ada yg panggil gue dengan sebjtan eomma (korea; ibu). Ingin rasanya ada yang memeluk gue ketika ketakutan, bersedih atau saking senangnya. Haih... Perasaan apa ini.....



Read More

Apa yang Gue Mau (Tentang Karir)

Apa sih yang gue mau tentang karir? Jadi sebenernya ini adalah fase yang paling gue tunggu sejak gue lulus SMA. Entah kenapa Saat itu semangat gue buat cari uang sendiri mulai memanas dan makin memanas ketika gue kuliah. Pekerjaan pertama  gue sebenernya adalah berdagang. Kebetulan gue memiliki keterampilan di berbagai bidang. Salah satu bidang yang gue pakai untuk berwirausaha saat itu adalah merajut. Gue punya ide itu setelah main ke rumah saudara di jogja yang jualan hasil rajutannya juga. Gue pun mulai meningkatkan kemampuan merajut gue. Waktu itu gue udah bisa bikin broche, dan bandana dari rajutan, lalu gue jualin ke temen-temen. Ada yang beli walaupun gak seberapa. Usaha ini berhenti ketika gue harus pindah ke Jakarta.
Setelah kuliah gue mencari-cari lowongan kerja part time. Tadinya gue berniat mau lamar jadi pelayan di starbuck tapi sama ibu ga boleh. Akhirnya saat gue kuliah semester 3 ada temen mba sekar yang buka lowongan sebagai tutor di bimbel. Gue pun memberanikan diri untuk melamar dan alhamdulillah di terima sebagai tutor SD. Sayangnya, gue cuma bertahan sebulan karena gaji yang gue dapet ga sesuai perjanjian kontrak. Bahkan gaji yang gue terima gak cukup buat transportasi gue ke tempat bimbel. Mana kasih gajinya telat. 

Tapi semangat gue untuk cari uang sendiri gak padam. Setelah resign dari bimbel itu, gue kembali berdagang mengingat dulu waktu dagang broche dari rajutan untungnya lumayan, gue pun meningkatkan kemampuan gue dalam merajut. Gue bisa bikin amigurumi, topi bayi, tas. Dan gue pun berjualan amigurumi. Amigurumi itu boneka yang dibuat dari rajutan. Alhamdulillah banyak yang order. Tapi ternyata gue kewalahan karena disambi kuliah dan saat itu lagi musim ujian. Gue pun harus terpaksa gulung tikar lagi. 

Apa  gue putus asa? nggak. Ketika ada lowongan sebagai asisten praktikum di Fakultas gue pun mendaftarkan diri dan diterima. Yaa pendapatan sebagai asisten praktikum sih ga seberapa tapi gue seneng. Lagian gue bisa dapetin tambahan dari gue ikut jadi panitia di acara-acara kampus atau ikut seminar-seminar kebangsaan. 

Ketika gue semester 5 ada dosen gue yang tau kalo gue punya keterampilan merajut dan pernah berdagang. Waktu itu dia memang lagi nyari entrepreneur muda untuk diberikan modal dari pemerintah. Menarik sih ya, tapi kalo inget kewalahannya kek apa gue justru takut. Karena modal yang gue terima dari pemerintah otomatis gue ga bisa menentukan keputusan sendiri kan seandainya gue mau hiatus dulu haha. Ya, gue pun menolak. Tapi ada salah satu dosen lagi ternyata yang memang punya usaha hand made pernah pernik kreatif gitu dan ajak gue bekerja sama. Dosen gue bilang gue ga perlu kerja sendiri, cukup mengajarkan karyawan dia gimana cara ngerajut. Gue sempet galau sama penawaran itu. Tapi setelah konsultasi sama ibu, ibu bilang gue fokus kuliah aja biar bisa 3.5 tahun dan cumlaude. Akhirnya gue tolak deh tawaran dosen gue. Btw, gue tetep jadi asisten praktikum.

Tapi memang semangat kerja ini ga bisa padam. Selepas semester 6, ketika masih liburan ada senior kampus yang nawarin lowongan programmer ke gue di CV senior kampus gue. Gue pun menyanggupi tawaran itu. Sempet dilarang sama ibu karena alamat kantornya ga jelas. Tapi setelah ngomong terus ke ibu, akhirnya diijinin. Ternyata kantornya ga jauh dari kampus. Jadilah pada saat itu, gue kerja sebaga helpdesk programmer, dan asisten praktikum. 

Setelah masuk tahun ajaran baru (semester 7), ternyata ada perubahan kurikulum di kampus gue. Yang tadinya seharusnya gue tinggal skripsi aja eh jadi ada beberapa mata kuliah tambahan yang harus diambil juga. Setelah berpikir-pikir, akhirnya gue memutuskan untuk resign dari CV itu ketimbang harus kewalahan harus skripsi, kuliah, asisten praktikum, dan kerja part time. Sebulan kerja di CV itu alhamdulillah untuk pertama kalinya gue bisa nerima uang sebesar 1 juta rupiah dari jerih payah gue sendiri.

Perjalanan gue sebagai asisten praktikum pun harus terhenti di bulan September 2016 karena suatu hal. Setelah itu gue fokus ngerjain skripsi dan kuliah aja. Oi ya gue juga sempet waktu itu dagang kelinci untuk dijadiin hewan peliharaan. Awalnya gue pelihara kelinci terus gue jodohin, pas lahiran dan udah siap sapih sama induknya, gue jual deh dan alhamdulillah laku semua tapi abis itu ga mau lagi karena kasian sama kelincinya :(

Setelah lulus kuliah, gue membuat tim coding bersama 2 temen gue (andini dan nadya) untuk jadi freelancer. Kami cari client dengan nge-bid beberapa iklan di situs projects.co.id, tapi ternyata kami gak laku ahahahahahahahahahahahaaaa. Mungkin harga yang kami taro terlalu mahal, sementara ada yang berani naro harga jauh di bawah kami. Dan tim coding itu pun bubaaaar hahahaha

Ketika surat keterangan lulus udah di tangan, gue pun mencari lowongan kerja ke sana kemari. Awalnya gue dapet tawaran untuk kerja di reenom, perusahaan di jepang, terus dapet tawaran juga dari dosen pembingbing akademik juga untuk kerja di australia, tapi karena mungkin ga direstuin ibu merantau ke luar negeri akhirnya gagaaaaal semuanya. Sebagai gantinya dosen pembimbing akademik gue nawarin kerjaan di rektorat kampus tapi sebagai admin. Gue nolak karena gue ga mau ilmu gue selama kuliah gak kepake. Akhirnya gue nyari sendiri lowongan kerja di berbagai situs lowongan kerja. Setelah melalang buana, interview sana sini, sakit hati sama anak perusahaan PT Semen Gresik pula, dan pencarian gue pun berakhir di PT Info**** Sol*****. Sesuai dengan keinginan  gue, di situ gue bekerja sebagai web developer.

Setelah bekerja selama sebulan, ternyata gue ga betah. Bukan karena gimana-gimana tapi karena gue gabut. Gue ga ada kerjaan tapi digaji. Gue orangnya sedikit idealis sih jadi ngerasa ga betah aja, karena menurut gue, gue pantas nerima gaji karena gue kerja. Faktanya gue banyak gabutnya. Berkali-kali pengen resign tapi ntah kenapa ada aja halangannya. Mungkin emang ga boleh resign sama Allah. Giliran mau interview di kantor lain selalu aja gue sakit dan ga bisa hadir. 

Akhirnya untuk mengisi kekosongan gue, gue mengambil beberapa proyek di luaran. Gue jadi freelancer seorang diri gak kek dulu yang pake tim haha. Tapi gue ga puas sampai disitu. Gue berpikir saat ini gue bekerja di kantor orang. Gue bekerja untuk membangun mimpi orang yang punya kantor. Kalo gue aja bisa membantu membangun mimpi orang lain, kenapa gue gak membangun mimpi gue sendiri?

Semenjak gue kuliah , gue suka baca biografi orang-orang sukses seperti Mark Zuckeberg, Larry Page, atau Steve Jobs. Harland Sanders, Niko al hakim, Rachel Vennya, Joy mangano, dan masih banyak lagi. Mereka orang orang yang dulunya punya mimpi. Dan mereka sukses karena membangun mimpinya itu. Suatu hari gue merenung, tiba-tiba gue teringat dengan kata-kata guru BK SMA  gue kalo sebenernya gue adalah anak yang punya potensi. Potensi, ya.. ntah kenapa mulai saat itu gue seolah terbangun , "iya loh gue ini punya potensi" dan gue melihat temen-temen kampus gue dalam lamunan gue. Mereka juga orang-orang yang punya potensi. Gue pun berpikir seandainya gue punya gebrakan, akan bagaimana jadinya? gue ajak temen-temen kampus gue, dan kami bisa sukses bersama. Gue terus berpikir gebrakan apa yang mau gue buat. Dan akhirnya tercetuslah dalam pikiran gue sebuah sosial media yang belum pernah ada. Sebuah sosial media yang menampung informasi yang tidak mudah di dapatkan orang-orang. 

Mulai saat itu gue berhenti untuk melamar kerjaan lagi. Mungkin ada hikmahnya gue digagalkan terus setiap interview sama Allah. Mungkin Allah memberikan gue kesempatan untuk garap mimpi gue, makanya di kantor yang sekarang gue dikasih waktu luang yang banyak.

Alhamdulillah, walaupun agak alot mimpin temen-temen buat garap sosial media ini, gue sampe ngambek berkali-kali karena sifat mager mereka yang nempel banget, tapi sekarang udah terbentuk tim, udah pembagian kerja, dan sekarang udah masuk ke tahap develop juga. Gue harap setelah sosial media ini launching, bisa booming dan sukses.... amiiin dan semoga gue bisa jadiin sosial media ini sebagai karir gue di masa depan... semoga sosial media ini bisa jadi sosial media pertama dari indonesia yang go internasional.. amiiin

Semoga sukses ya Allah... amin 
Read More

CLBK (Cinta Lama Bersemi Kembali)

Sebenernya tema ini harusnya gue posting dari bulan lalu tapi gue ragu. Oke, langsung aja ya... jadi belum lama ini ada seseorang yang dulu pernah hilang dari hidup gue datang kembali. Honestly, gue seneng. Gue seneng silaturahim sama temen lama karena disitu gue merasa gue masih dianggap. Awalnya gue cuma like salah satu postingan video dia. Mengingat dia orangnya narsis semoga dia ga berpikir gue modus, karena gue tipe orang yang selektif buat kasih like, comment di sosmed. Kalo gue like berarti gue bener-bener tertarik sama postingannya. Terus tiba-tiba gantian dia yang like postingan gue, kalo gak salah foto jalan-jalan gue pas ke Jayapura. B aja gue sih, alias biasa aja. Iya gue akuin dulu gue pernah ada hati sama dia. Bahkan gue pernah menyatakan cinta loh ke dia hahaha anjir yah kalo diinget mah malu asli, apalagi ketika dia cuma jawab 'itu masa lalu'. Tapi ga apa sih, setelah itu gue lega aja ga dirundung rasa penasaran aja. Daaan abis ditolak sama dia gue pun bisa membuka hati lagi untuk yang lain, dan yap! gue pun jadian sama brondong ahahahahaha untung setelah 4 hari gue sadar ahaha putus gue sama tu brondong, eh pas gue kelas 10 malah balikan lagi seminggu haha. Oke, back to benang merah. Aduh biar ceritanya enak kita sebut aja orang yang sedari tadi gue ceritain ini adalah DBS (ini inisial nama dia).

Jadi setelah saling like itu lalu TRING! dia chat gue. Gak gue sangka, karena duluuuuu dia tuh cuek banget ke gue. Walaupun gue pacaran sama brondong, terus gebetan dimana - mana tetep aja beberapa kali gue mencoba buat kontak dia tapi dia tuh cuek loh asli dah. Gue semacam dianggap serbuk marimas haha. Gue berhenti kontak dia itu setelah gue deket sama seseorang berinisial PSD. Yaa friend zone gitu gue sama dia. Setelah itu sama sekali gue ga pernah kontak DBS lagi. Apalagi setelah gue pacaran sama Dhymas Guntur Gunawan, DBS bener-bener udah terlupakan.

Yaaa gue pun membalas lah chat dia. Gue mah gak dendam orangnya wkwk. Gini gue kasih screenshot chatnya ya.



Nah disitu jangan salah sangka ya gue bilang ga sehat memang kondisi gue saat itu lagi ga sehat. Gue orangnya ga bisa basa basi dan apa adanya. Nah laluuuuuu dia minta nomor HP dan lanjut wa-an. Awalnya gue mah nanggepin tapi lama-lama gue merasa aneh. Ini orang terlalu ga cuek gitu, semacam 'ada apa?'. Cuma gue ga enak untuk nanya karena sebelumnya emang belum pernah deket. Dan gue semakin terganggu setelah dia melontarkan pertanyaan "udah makan?" karena itu tuh pertanyaan kek pertanyaan anak sekolah kalo lagi PDKT gitu hahahaha. Gue merasa ini udah bukan jamannya gue lagi. Apalagi dia tetiba pap foto selfie, gue semacam "apa sih ini?". Gue kurang suka gitu, apalagi kan gak terlalu deket. Dulu dia cueknya masyaallah loh, kenapa sekarang jadi gitu kan gue jadi bingung. Akhirnya gue ambil jarak sama dia, selain gue awkward sama kelakuan dia dan gue sebenernya takut CLBK hahahahahaaa. Takut? iya gue takut karena posisi gue sekarang lagi merindukan kehadiran seseorang, dan gue takut dia pelen-pelen ngisi hati gue hahaha apalagi dengan kelakuan dia yang sok care macam anak sekolah lagi PDKT. Alasan gue ga mau CLBK adalah karena gue sedang ingin mencari seseorang yang bisa membimbing gue, mengajari gue tentang agama. Dan dia bukan orang yang seperti itu.

Dan sekarang agak kaku gitu sih kalo mau kontak lagi. Sebenernya gue agak gimana gitu yaaa... gue tuh pengen sahabatan aja, gak kaku dan ya biasa aja ngobrolnya jangan sok sok care gitu.

Yaaa udah sih gitu aja. Haha kalo DBS mampir dan baca tulisan ini please jangan berprasangka aneh-aneh. Ayolah berteman saja seperti biasa jangan melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang semacam anak sekolah PDKT ahahahaaa peace ^_^v
Read More

Social Profiles

Twitter Facebook

Cari Blog Ini

Emoticon

Popular Posts

Categories

Total Tayangan Halaman

Follower

Copyright © Swand-dan room | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com