Apa yang Gue Mau (Tentang Pasangan Hidup)

Apa sih yang gue mau? pertanyaan itu berputar-putar dalam pikiran gue 6 bulan ini. Pertanyaan yang selalu berubah jawabannya semakin bertambahnya pemahaman gue tentang hidup diluar itu salah atau benar. 

Dari yang tadinya keras kepala apa yang gue mau harus sejalan, sampai akhirnya gue pasrah mengikuti alur skenario yang sudah dirancang Allah. ...

Dari yang tadinya keukeuh ga mau menikah kecuali sama mantan, sampai akhirnya gue pasrah dan mulai membuka hati untuk yang lain... 

Tapi gue gak mau menjalani pacaran lagi. Demi, gue trauma. Sayangnya gue ga bisa cerita apa yang membuat gue trauma di sini. 

Saat ini memang gue menginginkan seseorang (laki-laki) yang serius sama gue. Bukan untuk status semata. Tapi memang terkadang di moment-moment tertentu gue butuh sosok yang bisa gue ajak sharing, berbagi cerita. Karena gue anak bungsu, dan entah kenapa kalo di luaran selalu aja ada orang yang 'iseng' sama gue dari dulu jadi rasa khawatir keluarga gue ke gue itu sangat amat besar. Jadinya kadang kalo gue cerita ada yang gimana-gimana sama gue, atau cerita gue sakit keluarga gue langsung membenci 'apa yang bikin gue sakit' bahkan kalo bisa mereka akan musnahin. 

Kenapa harus laki-laki? karena teman perempuan gue kebanyakan pada sableng kalo nanggepin gue cerita. Yaa ga bisa disalahin juga sih, karena gue kebanyakan suka bercanda kalo sama mereka. Tapi gue menginginkan laki-laki yang tidak sembarangan. Dalam artian laki-laki yang mau menerima segala kekurangan gue dan masa lalu gue. Laki-laki yang mampu membimbing gue untuk tetap berjalan di jalanNya. Membimbing dalam artian mau mengajari apa yang belum gue tau tentang islam, dan mengajak gue menaati perintahNya. Laki-laki yang sudah siap mengambil seluruh tanggung jawab bapak ke gue. Itu lah kenapa gue mau walaupun tanpa pacaran laki-laki ini harus tau siapa gue dulu dan sekarang, dan gimana gue. Tidak susah untuk tau siapa dan gimana gue, jika bertanya gue siap untuk memberitau. Tapi kalau tidak mau bertanya, cukup lihat lah di sosial media gue, di blog ini, atau dari teman-teman terdekat gue. Dan laki-laki ini harus kenalan dulu sama orang tua gue. Harus bisa meyakinkan bapak dan ibu kalau gue akan aman kalo sama dia. Intinya harus mau berjuang kalo mau serius sama gue. Harus bisa mengubah mindset bapak dan ibu juga dalam hal "mendahului kakak menikah". Jika memang sudah jodohnya pasti dilancarkan.

Permasalahannya adalah udah langka banget laki-laki yang bisa begitu. Giliran ada, yaa flat aja gtu sewaktu gue bilang "tidak" terus udah langsung hilang. Iya, gue paham gue bukan permata, bukan emas, bukan seorang putri kerajaan yang mungkin pantas diperjuangkan mati-matian. Tapi gue ini tetap milik bapak ibu gue yang selalu memandang gue sebagai permata mereka yang cantik. Yang selalu ingin gue jatuh ditangan yang lembut tanpa duri. Syuuusyaaahhh... tapi yaudahlah sabar aja sambil terus perbaiki diri. Gue masih percaya skenario Allah lebih indah. :) 
Read More

Gue Tanggalkan Jilbab ini

Sebelumnya, gue mau bilang gue bukan orang yang mengerti betul tentang agama. Gue pun masih belajar dan terus belajar. Di sini gue hanya ingin bercerita sesuai pengalaman gue. Ini semua tentang perintah Allah yang tertulis dalam Al Qur'an mengenai jilbab. Wajib hukumnya bagi seorang muslimah mengenakan jilbab. Namun, banyak sekali muslimah di Indonesia yang belum mau mengenakannya. Jika ditanya alasannya sering kita mendengar "mau benerin hati dulu baru jilbab" atau "ngapain pake jilbab kalo hati masih belum bener". Memang, ketika perempuan sudah mengenakan jilbab, lalu dia tertawa keras, bertingkah pencilakan, atau berbicara kasar orang - orang akan langsung men-judge "pake jilbab kok gitu sih?" atau "ga pantes lu pake jilbab tapi kelakuan minus". Ini adalah sebuah judge yang salah. Jilbab adalah kewajiban, walaupun kelakuan minus sekalipun, jilbab adalah kewajiban menurut gue sama seperti sholat wajib 5 waktu. Kalau nunggu hati bener, ya kapan benernya kalo ga pernah ada niat berubah? sedangkan kematian bisa terjadi kapan saja. Apa kalo ditanya kenapa ga sholat juga akan jawab nanti, nunggu hatinya bener dulu? Kalo dipikir sih gak pake jilbab aja udah dosa, terus sembari nunggu hatinya bener, ketika hatinya salah muncul dosa baru, bayangkan... jadi numpuk dong ya? 

Sebenernya yang membuat hati gue tergerak bikin tulisan ini adalah karena berita mengenai salah satu artis Indonesia yang lagi heboh karena menanggalkan jilbabnya. Dia bukan satu-satunya orang yang menanggalkan jilbabnya tetapi karena dia adalah publik figur maka ribuan orang yang menyesali keputusannya. Banyak sekali yang berkomentar menceramahi padahal gak kenal. Gue paham betul ada di posisi si artis itu karena dulu gue juga begitu. Dulu gue pake jilbab, gue berjanji mau istiqomah tapi karena suatu kesalahan yang gue perbuat, gue merasa gak pantes lagi pakai jilbab, gue merasa gagal, jadi lah gue tanggalkan jilbab itu. Ketika itu banyak yang menyayangkan termasuk salah satu guru gue. Awalnya beliau menyindir gue depan kelas, berkali kali. Kemudian akhirnya dia bertanya langsung ke gue, "kamu kemana jilbabnya?" yang saat itu gak gue jawab dan langsung kabur. 

Butuh waktu lama buat gue menyadari kesalahan itu. Butuh waktu lama gue terbangun dari tipu daya syaiton. Judge yang orang-orang berikan apalagi dari orang yang tidak tau gue, yang tidak kenal dekat sama gue dan ga tau duduk permasalahan gue malah membuat gue tambah muak dan makin jauh untuk sadar. Sebetulnya dalam kasus kek gue ini, yang bisa menyadarkan itu hanya orang-orang yang dekaat sekali, yang tau permasalahan gue. Itu saja tidak bisa nyadarinnya dengan yang langsung keras. Ibarat batu kalo di hancurin pakai batu bakal susah. Orang yang menyadarkan ini harus bisa berperan seperti air, perlahan saja. Sayangnya, waktu itu tidak ada orang yang bisa berperan sebagai air, jadi yang menyadarkan gue adalah Allah. Melalui caraNya yang membuat gue takut dan kembali mengambil jilbab gue. Dan ini lah gue sekarang, semoga gak pernal lari lagi jilbab dari kepala gue hehehe. Semoga gue bisa terus istiqomah berjilbab.

Untuk si artis ini gue ngeliatnya kasian aja gitu. Karena gue tau keputusan yang dia ambil itu keputusan yang berat tanggungannya apalagi dia publik figur. Gue berasa pengen bilang ke orang-orang yang berkomentar menceramahi artis itu, "Please, lo ga tau dia, lo ga kenal dia. Bahkan lo ga tau apa masalahnya. Doakan saja yang terbaik buat dia, ga usah menceramahi dia apalagi di depan umum, karena kita orang luar, sudahlah ga usah terlalu mencampuri urusan orang lain, perbaiki diri sendiri aja dulu. Doakan aja supaya Allah membuka hatinya, doanya dalam hati bukan di sosial media". 

Memang seharusnya urusan agama itu harusnya menjadi urusan antara orang dan Tuhannya saja. Dengan kata lain urusan agama itu privacy. Tapi iya ga ada salahnya sesama muslim saling mengingatkan. Mengingatkan loh ya bukan memarahi, memojokan, ataupun men-judge. Kesalahannya adalah banyak orang yang justru memojokkan dengan dalih mengingatkan, paham kan maksud gue? Orang-orang yang gak peduli bagaimana perasaan yang dia ingatkan itu. Jadi, sekali lagi gue bilang stop menceramahi orang yg ga lo kenal. Udah itu aja sih inti tulisan gue kali ini soalnya mata gue udah ngantuk banget hehe




Read More

Jadi Targetnya Sugar Daddy a.k.a Om - Om

Hai! gue hari ini mau cerita. Sumpah buat gue ini geli banget tapi kocak hahaha. Oke gue mulai ceritanya ya sekarang. Tau istilah sugar daddy? Oke, gue akan mengutip dari http://beritatentangwanita.blogspot.com "Sugar daddy adalah pria tua yang tertarik dengan wanita muda yang tidak segan melimpahkan hartanya untuk si wanita yang ia sukai". Kenapa gue mau bahas soal sugar daddy? karena gue baru aja hampir dijadiin target oleh seorang sugar daddy!!

Jadi, siang ini gue makan siang sama temen-temen kantor. Kita makan soto di pinggir jalan. Nah tadi itu meja kang soto rame jadi gue duduk terpisah sama temen-temen kantor gue ini. Gue duduk di sebelah pria tua itu a.k.a sugar daddy. Mungkin kalo di gambar kek gambar di bawah ini :

Denah Tempat Duduk 


Setelah soto pesanan datang, people A cabut tuh, jadi tempat dia kosong. Karena posisinya gue udah nyuap beberapa sendok jadi mager harus pindah ke tempat kosong itu. Gue lanjutin makan sambil chatting di grup temen kampus gue, sementara temen kantor gue ngobrol berdua. Tetiba Mba Pau nyeletuk, "kita kek musuhan sama danti"
"kenapa?", tanya Marisa
"iya duduknya jauh - jauhan", jawab mba pau
Saat itu gue cuma nyengir aja ga kasih komentar apa pun karena emang lagi sibuk chatting di grup kampus juga. Nah, mungkin si pria tua dan temannya merasa tersindir dengan celetukan Mba Pau, karena posisi mereka udah kelar makan. Kemudian si pria tua menawarkan gue untuk bertukar tempat.
"yaudah apa mau tukar tempat aja kita?", tanya dia
"ah? mmm boleh deh pak", jawab gue
Gue pun berdiri dan bersiap - siap untuk bertukar tempat. Tapi ketika gue udah berdiri bahkan memberi jalan supaya si pria tua dan temannya itu bisa keluar terlebih dahulu dari tempat mereka, supaya gue bisa masuk dan duduk di tempat mereka, mereka justru tidak bergerak sedikit pun. Akhirnya gue yang udah terlanjur berdiri lalu ambil duduk di tempat kosong, tempat yang sebelumnya di dudukin people A. Terus si pria tua itu ngomong lagi,
"Eh ini disini aja, kita udah selesai kok", Kata dia dalam hati gue ngedumel, 'daritadi harusnyaaaa!!! kesel bet gue!'
"Gak apa pak disini aja saya, biar gak musuhan hehe", jawab gue
Gue pun melanjutkan makan, kemudian si pria tua itu mulai bertanya tanya gue dan temen2 dari gedung yang mana, kerjanya apa. Gue dan temen-temen cuma jawab sekenanya aja tapi tetep sopan. Nah singkat cerita, ketika tau kalo gue programmer, si pria tua itu langsung nawarin kerjaan. Gue gak jawab apapun selain senyum basa basi.
"Punya kartu nama gak?", tanya si pria itu
"gak punya pak", jawab gue
"ini yang lain punya gak?", tanya dia lagi
"gak bawa pak", jawab Mba Pau
"wah saya juga gak bawa", jawab Marisa
"ga ada kartu nama?", tanya pria itu lagi
"ga ada pak, ga ada yang bawa", jawab gue
"atau mau nomor manajemen kita aja pak?", tanya Marisa
"ah, ngapain nomor kalian aja langsung", jawab dia
Akhirnya dia minta nomor gue. Awalnya gue agak keberatan juga kasih nomor HP tapi gue lumayan tertarik sama tawaran kerjaan dari dia. Okelah, gue berpikir kalo ada apa-apa gue bisa langsung block nomor orang ini langsung, jadi lah gue kasih nomornya, nih gue kasih videonya, kebeetulan Marisa iseng snapgramin.



Bisa diliat kan? muka gue disitu flat banget, karena gue gak nyaman! Gue merasakan gelagat yang aneh dari si bapak itu. Kemudian bapak itu pun pergi. Sebelum benar-benar pergi si bapak nanya apakah gue udah nikah atau belum. Gue jawab aja belum, ya memang belum. Gue lanjutin menghabiskan soto gue sembari ngobrol sama temn-temen. Gak berapa lama, HP gue ada telepon masuk dari nomor yang tidak gue kenalin sama sekali. Gue angkat lah, waktu gue halo-in ga ada suara balasan dari seberang telepon yaudah deh gue tutup langsung. Nah, gak berapa lama lagi nomor itu chat wa gue. Ternyata, itu nomor milik si bapak tadi. Berikut cuplikan percakapannya, gue saking gelinya langsung gue hapus dan ga sempet gue SS.

PT = pria tua
G = gue

PT : "halo, ini yang tadi minta nomor di tempat soto"
G : "Oh iya pak. Ini dengan bapak siapa? biar saya simpan nomornya"
PT : "Jangan panggil bapak, panggil aku Abang Boim atau Mas Boim aja"
G : "Oh iya pak"
PT : "Kamu udah selesai makan atau balik kantor belum?"

Udah, sampe sini gue udah geli banget. Chat dia yang terakhir gak gue read sama sekali. Bahkan langsung gue hapus. Apa sih? inget umur apa harusnyaaaaa.... dia tuh seumuran sama bapak gueee. Udah tuh abis itu gue di cengin sama Marisa dan Mba Pau. Idiiih gak deh gaaaak. Nah, ketika gue udah nyampe kantor, dia wa gue lagi baru deh yang ini gue SS. Sebelum read gue nanya dulu sama Marisa, kata marisa gue ngomong aja kalo ga suka sama cara dia. yaudah gue pun ngomong seperti yang ada di SS, yuk di baca aja Tapi mohon maap yak nomor dan poto gue sensor.

SS Percakapan Gue dan Sugar Daddy
 Nah! gimana? geli gak sih? hahaha tapi maapkeun perngakuan halu gue yang terakhir haha semua demi keamanan guee hahaha. Nikah sama siapa coba gue hahahaha halusinasi banget!

Ampun dah, gak nyangka bisa di chat gitu sama om - om. Iyuh, gak deeeh... gak lagi-lagiiiii... semoga ini sekali seumur hidup. Aaaamiin!

Read More

Secuil Cerita Mahasiswa Teknik Informatika (3) - Senioritas, Pergaulan Anak Ibu Kota, dan Pertama Kali ke Tempat Billyard

Menjadi mahasiswa teknik informatika di fakultas gue ini agak-agak berbeda pergaulannya. Jadi, di fakultas teknik di Universitas gue ini ada satu adat yang mengental di kalangan mahasiswa yaitu sistem bapak-ibu-anak angkatan. Sistem ini sih dibuat sebagai salah satu cara menjaga kesolidaritasan mahasiswa teknik. Biasanya yang punya sistem ini sih anak-anak teknik mesin karena mereka punya M Solidarity. Nah, masalahnya sistem yang ada di teknik mesin itu ternyata menginfluence jurusan-jurusan teknik lainnya di Fakultas gue dan ternyata udah menjadi tradisi semenjak belasan tahun yang lalu. 

Cara kerjanya begini, setiap mahasiswa baru (maba) khususnya mahasiswa teknik punya yang namanya bapak angkatan. Biasanya yang jadi bapak-ibu angkatan adalah senior 3 tahun di atas maba, kek angkatan gue itu bapak-ibu angkatannya ya senior angkatan 2010 karena gue masuk ke angkatan 2013.

Panggilan untuk para senior pun ditetapkan, kalo ke yang cowo itu abang atau bang dan yang ke cewe itu kakak, tapi untuk ke bapak-ibu angkatan sih tergantung bapak-ibunya. Misal gue kan anak angkatannya 2016 dan anak-anak angkatan 2016 manggil gue dan temen-temen cewe lainnya itu umi. Nah, 2010 ini punya bapak-ibu angkatan yaitu senior angkatan 2007. Senior angkatan 2007 ini disebut sebagai abang kakek sama angkatan gue, tapi kalo sama angkatan 2016 disebut abang buyut, dan begitu seterusnya. Predikat bapak-ibu angkatan ini akan terus melekat walaupun si senior udah gak ngampus / kuliah lagi. Begitu, bingung kan? haha. 

Nah! sistem itu dibuat untuk mengkoordinasi maba supaya ikutin rule yang udah senior buat agar solidaritas terjaga, karena kalau tanggung jawab koordinasi dibebankan cuma ke satu angkatan akan berat. Biasanya para maba diwajibkan tiap pulang kuliah itu ke tongkrongan sama bapak-ibu angkatan. Di sana maba disuruh berkenalan dengan senior angkatan lainnya yang diluar garis bapak-ibu-kakek-angkatan. Di tongkrongan itu bebas mau ngapain aja. Mau ngegosip, ngerjain tugas, main bola, main UNO, rokok, makan soto, jajan otak-otak, siomay, mie ayam, bahkan minum. Bahasa yang dipake pun ya karena mayoritas mahasiswa teknik itu laki-laki jadi you know lah laki-laki kalo udah becandaan apa ngobrol ke sesama temennya yang udah akrab, semua hewan kebun binatang sampe sebutan barangnya laki atau cewe keluar. Sempat gue ngerasain momen-momen yang bikin gue gak nyaman waktu kumpul ngobrol-ngobrol sama temen yang laki-laki karena apapun bahasannya selalu ada selingan atau ujung-ujungnya topik pembahasan jadi tentang s*x. Memang sih setiap gue omelin mereka minta maaf ke gue tapi namanya laki, diulang lagi lagi dan lagi. 

Pro dan kontra itu pasti ada. Makanya awalnya jumlah cewe di angkatan gue yang cuma 8 biji ini kepecah jadi 2, sisi pro 2 orang dan sisi kontra itu 6 orang. Begitu juga yang cowo kepecah jumlahnya. Gue adalah termasuk yang pro. Nongkrong, walaupun kadang gue ga nyaman juga karena tingkah laku anak lakinya, tapi gue gak masalah gitu. Lagian disitu gak ada yang ngajakin buat jadi nakal. Kalo memang bukan anak nakal ya udah tunjukin aja nantinya yang nakal justru ngelindungin yang ga nakal, apalagi gue cewe. Rule yang dibuat senior gue lainnya adalah mahasiswa teknik informatika yang cowo wajib banget lindungin mahasiswa teknik informatika yang cewe. Sampai yang cewe kecoel dikit akan ada hukuman dari senior ke mahasiswa teknik informatika yang cowo. Lindungin itu ya kek misal si cewe mau kemana-mana nah yang cowo harus anterin (kecuali ke toilet ya -_-), terus kalo si cewe butuh pertolongan ya yang cowo harus bantuin. Balik ke masalah nakal tadi, jadi kek gue ini kan gak minum, gak ngerokok jadi yang minum dan ngerokok gak akan pernah menjerumuskan gue. Kalaupun sampe ada pasti bakal kena hukumannya. Tapi ya setiap orang pemikirannya ga ada yang sama jadinya tetep aja ada yang kontra. Masalahnya adalah bapak angkatan gue ini maunya angkatan gue bisa full jumlah mahasiswanya di tongkrongan dan mereka membebankan tanggung jawab mengumpulkan anak-anak yang kontra biar jadi pro ke anak-anak yang udah pro. Karena masih maba, belum deket-deket banget juga jadinya susah dong narik anak yang kontra biar jadi pro, tapi bapak angkatan mah ga mau tau kan 3 pasal; 1. Senior selalu benar, 2. Jika senior salah maka kembali ke pasal 1, 3. Alumni semena-mena. Nah, jadinya yang kena hukuman dan omelan anak-anak yang pro. Karena itu anak-anak yang pro jadi perang dingin sama anak-anak yang kontra.

Suatu ketika, 6 biji anak cewe yang kontra itu bikin grup Line. Nah, salah satu temen gue yang laki tau tuh terus dia laporin ke temen gue (sebut saja dia Biji Salak) dan gue. Emosi dong jadinya kami. Bukan masalah gak diundang ke grup itu, tapi karena nama grup itu adalah cewe-cewe kece! hahaha simple banget atuhlah masalahnya. Tapi karena kondisi yang perang dingin itu bikin serba negatif thingking ke musuh kan? jadilah buat nyindir mereka, kami posting foto di facebook dengan caption "cewe-cewe gak kece" hahahahaha sumpah ngapain sih gue dulu!. 

Iya dulu temen cewe gue itu cuma 1 ya si biji salak doang, lainnya ya para lelaki di angkatan gue. Tapi seringnya gue kumpul sama biji salak dan 3 anak laki di angkatan gue yaitu si tengil, ipang, sama fandi. Kemana mana kalo di kampus ya bareng mereka-mereka mulu itu. Pernah suatu ketika kami berlima ini kompakan bolos kuliah. Terus si tengil ngajakin jalan, so mereka pun mulai berdiskusi mau pergi kemana. Gue mah diem aja soalnya gak ngerti daerah Jakarta tau-tau udah fix aja tuh mereka mau main billyard di daerah mana gue ga tau cuman gue sempet denger si tengil nyebut Kemang cuman gue kurang jelas gitu dengernya. Bahkan waktu itu gue juga kurang ngeh mereka mau main billyard. Karena diajakin akhirnya gue iyain aja soalnya gak punya temen lagi kan kalo mereka pergi haha. 

Karena jumlah motor cuma 2 dan ketiga lelaki itu gak mau boti alias bonceng tiga, si tengil bilang kalo gue sama biji salak disuruh boti sama ipang. Weitz! langsung aja gue pasang muka jutek, gilak! gak mau lah gue, mau di ujung atau di tengah tetep aja kek cabe-cabean!. Akhirnya si tengil pun mempengaruhi badar buat ikut jalan-jalan dan bolos kuliah. Benganya si Badar mau-mau aja, jadilah gue bonceng si Badar. Setelah lama gue menahan gak duduk dengan nyaman di motor Badar---bayangin aja udah bawanya ngebut, motornya motor apa kali itu namanya, tempat duduknya licin pulak! otomatis gue harus jaga diri gue buat ga merosot kan!! DAMN!!!!!!--- akhirnya gue sampai di suatu tempat. Gue masuk ke sebuah gedung yang ga gede-gede banget tapi gak kecil juga. Pas udah masuk ke dalam..... .... ... JREEEENG!!! What the fu*king place! cahayanya kurang, tempat billyard dimana-mana.. Idiw! Bego banget gue main iyain aja! kalo emak gue tau bisa diamuk ini gue masuk-masuk tempat billyard. 

Belum habis kagetnya gue bisa masuk ke tempat billyard, si biji salak ajakin gue duduk. Ternyata si tengil udah mesenin minuman buat gue sama biji salak. Minumannya itu warna coklat gitu dan aarrghh! pikiran gue udah gak karuan, minuman apa nih?! gue liat biji salak udah minum, dan berkali-kali juga anak-anak nyuruh gue minum. 

"iya, nanti aja", jawab gue 

Saat itu muka gue udah keburu BT. Oh noo, oh no, oh nooooooo! gue pengen keluar dari tempat itu segera rasanya. Berapa lama kemudian, biji salak nyuruh gue minum lagi. 

"iyaaa, nanti ajaa. Nanti gue minum", jawab gue lagi

Seolah dia bisa baca pikiran gue akhirnya biji salak bilang,"itu es teh manis kok daan". 

Gue langsung liatin biji salak dengan tatapan skeptis. Dalam hati gue berkata, "are you sure? dia bohong apa gak ya? dia bisa gue percaya gak ya? kalo gue dijebak gimana? harom ini harom"

"es teh ini dantiiii, bukan minuman yang tidak-tidak", kata biji salak lagi meyakinkan

"iya, nanti yaa gue lagi gak mood", jawab gue biar biji salak diem. 

Tapi... gue beneran haus, mana udara panas di luar. Tapi gue takut mau minum. Tapi gue haus. Tapi kalo ini minuman keras gimana? Tapi kata biji salak mah ini es teh. Es teh? yakin nih di tempat kek gini ada esteh?. Eh tapi di novel, artikel, dan film yang pernah gue tonton di klub malam aja ada air putih kok, masa iya di tempat billyard yang gini aja gak ada minuman halal. Tapi ini bukan air putih, warnanya coklat. Tapi tapi tapi tapi TAPIIIIIII AAAAARRRRGGHHHH!!!! SRLURRRPP.... DAMN! SEGER BANGET CUY! HUAAAAAA AKHIRNYA GUE GA BISA MENAHAN GODAAN DAN MINUM! tapi... bentar deh, kok rasanya... gue mengecap-ngecap lidah gue, hmm manis kek..... es teh... aromanya juga teh... WAH?! INI MEMANG ES TEH! AHAHAHAHAHAHA

"es teh kan?", biji salak nanya ke gue

"ehehehe", gue cuma cengir aja

Baru sekitar setengah jam di sana fandi ketemu temen-temen lamanya dan akhirnya si tengil ngerasa di kacangin. Si tengil ngambek akhirnya sama fandi dan pergi gitu aja dari tempat billyard ngajakin gue, biji salak, ipang, sama badar balik ke kampus. Yap, akhirnyaaaa yang gue tunggu tunggu tiba jugaaa... yeeeaay! I love my campus! gue balik lagi ke kampuuuuss.. well, gue berjanji hari itu adalah pengalaman pertama dan terakhir gue ke tempat billyard, gak bakal lagi gue ke tempat kek gitu!! walaupun gak kenapa-kenapa tapi NGGAK MAU LAGI!

Sesampainya di kampus, tetep yee bolos kuliah berlanjut bukannya masuk kelas eh malah masuk kantin hehehehe... dan gue pun ga sabar buat makan, lapeer. Tentu aja gue pesen minum lagi, kali ini gue bisa minum dengan hati yang tenang.. aaa senangnyaaa :3

Yap! jadi sekian secuil cerita mahasiswa teknik informatika bagian 3. Kalo mau tau cerita selanjutnya yaitu tentang perkuliahan di teknik informatika dan cerita persahabatan gue klik aja di sini :D. See you next time ya! makasih udah mampir :D
Read More

Secuil Cerita Mahasiswa Teknik Informatika (2) - Anak Daerah VS Anak Ibu Kota

 
Sumber : https://unsplash.com/photos/yzO421vlHpI
 
    Sebagi anak rantau yang menghabiskan 5 tahun di daerah sumatera dan 12 tahun di daerah banyumas, Jawa Tengah, lalu pindah ke tanah kelahiran yang kebetulan Ibu Kota Indonesia, rasanya adalah............ nano-nano alias campur-campur. Gue ngerasa excited tapi juga takut. Excited karena yaa biasalah namanya juga mahasiswa baru (maba) dan masa orientasi mahasiswa atau OSPEK itu jadi ajang buat memperluas koneksi. Misal, koneksi untuk mendapatkan pacar baru mungkin ahaha. Maklum pas banget waktu itu gue adalah jomblo newbie haha jadi antena buat nangkep sinyal-sinyal maba cakep lagi kenceng-kencengnya. Kenapa cuma maba? karena senior di fakultas gue sangar-sangar, belum juga hari pertama belajar di kampus udah di teriak-teriakin hauffttt... biasalah Fakultas Teknik... di Universitas Swasta lagi may be you-know-what-I-mean.

    Selain itu, it was my first time bakal liat langsung orang-orang terkenal atau orang-orang penting di negara ini, secara di daerah kan sulit pisan nemuin artis atau orang-orang terkenal hahaha. Dannnnnnn...... kenapa gue takur? yaiyalah karena gue saat itu tau akan mengalami transisi kebudayaan dan adat dan tradisi. Contoh nih contoh di daerah ketika ngobrol sama temen gue bakal pake 'aku-kamu' sebagai kata ganti orang ke semua temen gue, mau dia cowo atau cewe sedangkan di Jakarta, 'aku-kamu' hanya dipakai ketika lo ngobrol sama yang sesama jenis dan ke pacar. Misal, gue ini kan cewe kalo gue ngobrol sama temen cewe pake aku-kamu' itu masih wajar tapi kalo gue pake 'aku-kamu' ke temen gue yang cowo.... Okei, gue bakal di cap gengges, dan itu akan terasa weird -__- dan pasti mereka batin,"who are you? I'm not your boyfriend, ok? I don't like you!". Tapi kalo lo cowo dan lo ngobrol sama cowo terus pake 'aku-kamu' misal, kalian lagi duduk berdua terus temen lo pergi dan lo nanya, "eh, kamu mau kemana?" HA! it will be weird, kek yang sekeliling lo itu bakal beku semua gitu haha dan semua orang yang denger bakal liat lo! Kalo temen lo orang yang blak-blakkan pasti dia ingin berkata kasar kek "XI ANYING!" hahaha dan lo tau kenapa?? karena mereka bakal liat lo kek lo itu GAY! GAY bro!! lo HOMO! hahaha. It is weird.

    Gak cuma itu, masalah logat, fashion pun kadang bikin gue minder. Tapi gue berusaha ngilangin mindernya itu dan terus berpikiran kalo gue harus jadi diri gue sendiri. Finally, gue udah terbiasa pake gue-lo dan logat gue udah ilang. Cuman ya kadang suka kambuh sih hehe. Dan ternyata gak seperti yang gue pikirin kalo anak-anak ibu kota tuh bakal sombong-sombong dan pasti memandang sebelah mata ke anak daerah kek gue. Nyatanya, mereka itu welcome loh sama anak daerah. Welcome banget. Ramah pula. Hidup di Jakarta ga seburuk yang dipikirin anak daerah kok.. :)

    Yap! jadi itulah secuil cerita mahasiswa teknik informatika bagian 2. Kalo mau baca cerita selanjutnya klik di sini ya! :D . Terimakasih udah mampir!

Read More

Social Profiles

Twitter Facebook

Cari Blog Ini

Emoticon

Popular Posts

Categories

Total Tayangan Halaman

Follower

Copyright © Swand-dan room | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com