Relationship

Ah, kenapa ya ada orang yg bisa lupain suatu relationship gitu aja

Banyak kan ya ada 2 atau lebih orang yg dulu nya temen 1 kelas, temen 1 kerjaan, seru banget kalo becanda, susah dipikul bareng, senang di share, bikin grup wa selalu ramai dengan kebahagiaan, ada yang punya berita bahagia ikut bahagia mengucapkan selamat, ada yg punya duka ikut berduka minimal ada ucapan duka. Ada juga yang dulunya dekeeet banget, kemana mana hampir selalu bareng, sering curhat sana sini apa aja dicurhatin dari yg sangat pribadi atau hanya sekedar cerita ringan, sering nongki bareng juga, berbagi suka duka.

Sedekat itu gitu loh, tapi ketika jarak memisahkan, dan waktu tak izinkan lagi untuk sering bertemu lalu seolah WUZZzz!! hilang....................

Seolah kenangan bersama yang dulu tercipta terpecah pecah seperti puzzle dan terpendam dengan kenangan2 baru bersama orang baru yang lebih sering bertemu. Grup wa yang dulu ramai pun mendadak sepi. Diajak kumpul bersama pun sulit, semua memiliki kesibukan masing masing. Yah... Ntah sibuk atau memang sudah hilang rasa kebersamaan. Parahnya lagi ketika ada punya berita suka atau duka pun.... sekedar ucapan selamat atau turut berduka saja bisa terhitung orangnya. 

Iya, seiring berjalannya waktu seolah ada dinding tinggi yang muncul memisahkan, dinding tinggi yang menciptakan rasa enggan, segan, dan atau sungkan. 

Lucunya, ketika waktu mengijinkan kembali untuk bertemu..... semuanya terasa asing, seolah itu pertemuan yang sangat pertama, bahkan untuk menyapa "hai" saja harus berpikir 100x. Sedih rasanya.... 

Untunglah, saya bukan tipe orang yang mudah melupakan relationship. Selagi ada kesempatan untuk menyapa yess saya akan menyapa walaupun hanya dari sosial media. Kecuali kalau relationship itu diakhiri dengan luka dari suatu pertengkaran. Ada rasa ingin kembali yang kuat tapi takut akan terluka lagi. Wajar, tidak ada orang yg ingin terluka. 

Saya akan sangat senang kalo diajak meet up. Saya akan sangat semangat. Bahkan tak jarang saya yang akan mengajak meet up duluan. Malu?? Ngapain malu? Bukannya dulu pernah dekat? Saya sih prinsipnya gitu. Tapi kalo ga ada feedback males juga sih. Misal yang semangat cuma saya gitu. Sampe yang mikirin harus kemana, harus apa cuma saya. Sekedar nentuin tanggal meet up aja gak ada jawaban. Atau ada juga yang di say hi tanggepannya flat malah ga ada jawaban. Males banget tau ga sih. Ini kan bukan tentang give and give jadi saya mengharapkan pamrih dong. Ini tuh tentang relationship, tentang silaturahim, bagaimana bisa terjalin kalo talinya cuma 1? Iya ga sih? Duh, kalo udah begitu menurut gue sekalian saja tidak usah kenal lagi bahkan di sosial media sekalipun. Saya bukan orang yang mementingkan jumlah follower sih ya, jadi mengurangi orang2 macam itu ga ada artinya untuk saya.
Read More

Semua Laki-Laki itu Sama

Ada temen tiba tiba posting poto cewe dengan caption "sayang" yang saya tau itu bukan cewenya. Tentu ini mengundang rasa penasaran saya!

Sejurus kemudian... bergeraklah hati ini untuk bertanya menuntaskan rasa penasaran

Lalu dia (temen saya) akhirnya curhat tentang hubungannya dengan cewe dia yg sejauh saya tau belum putus. I mean bukan cewe yg dia posting, sebut aja cewenya adalah rosabela.

Intinya dia bilang... dia dan rosabela sudah putus secara baik2 sejak 3 bulan lalu. Bukan karena selingkuh, bukan karena tidak cocok, bukan karena saling bertengkar, tapi karena kendala keluarga dari pihak si rosabela yang ga menyetujui temen gue ini, yah gue pikir memang sih temen gue ini bukan orang baik secara iman. 

Tapi rasa penasaran belum habis karena yang saya tau dia dan rosabela masih sering jalan bareng, bikin vlog bareng selayaknga orang yang masih pacaran. Saya terus menggali karena masih ada yang mengganjal begitu. Lagipula masih belum masuk akal jarak 3 bulan putus dan masih sering nge-date tapi udah bisa bilang sayang ke cewe lain?

Jika dibandingkan saya aja butuh waktu 1 tahun untuk nge reset hati ini. Membersihkan semua rasa tersisa, mengikhlaskan semua kenangan, dan menerima takdir itu ga semudah itu. Lah ini temen saya baru 3 bulan putus, masih suka jalan bareng mantan tapi bilang sayang ke cewe lain??? WOW! 

Kok bisa ya masih sering jalan, ketemu sama mantan tapi bilang sayang ke cewe lain??? Hal ini membuat saya menanyakan keseriusan dia terhadap cewe barunya, saya juga menanyakan sisi rosabela, dan saya juga menanyakan nasib cewe baru dia ke depannya.

Temen saya berdalih kalo dia udah ikhlas sama takdir dia, begitu pun mantannya, dan mantannya pun tau hubungan dia sama cewe baru itu. Entah mengapa saya susah buat percaya.

Well, saya bertanya lagi apa dia serius sama cewenya yg baru itu, dan dia jawab serius, dia menekankan kalo dia serius.

Hmmm... saya masih agak ragu, mungkin karena dulu saya punya mantan yang waktu masih pacaran sama saya bilangnya sih udah ga mikirin mantannya tapi .. bullshit! Dusta itu semua! Pada akhirnya posisi saya yg lebih banyak dirugikan. Saya membayangkan jika cewe barunya temen mengetahui apa yg disembunyika temen saya ini, saya jadi teringat posisi saya pada saat bersama mantan dan rasa sakit itu jadi teringat lagi.

Meski begitu saya mencoba percaya, lalu......

Hari itu saya menghabiskan penghujung hari sebelum liburan bersama teman-teman di tongkrongan yang dulu sering kami datangi semasa kuliah. Teman saya itu hadir, dan rosabela pun hadir (fyi rosabela sudah saya anggap seperti adik saya sendiri). Dan..... mata ini pun melihat yang....... Entahlah...... what the ....... 😂😂 percaya ga percaya, apakah saya sudah dibohongi teman saya? Persis di depan mata pula, temen saya ini"membelai" rambut rosabela dengan lembut, dan caranya memandang rosabela benar-benar penuh kasih sayang. Bahkan ketika kami poto bersama pun dia ambil posisi di sebelah rosabela hahahahaha 😂😂 saya tidak bisa berhenti untuk tertawa. 

Terus terang, saya langsung berpikir apakah sudah tak ada laki laki yang bisa dipercaya omongannya? Apakah kali ini saya harus percaya semua mulut laki laki itu sama?

Kenapa bisa melakukan hal seperti itu? Kenapa bisa memberi harapan ke orang baru sedangkan urusan hati dengan mantan belum selesai? Move on ga harus cari pengganti kan? Kenapa harus memperalat orang baru untuk ngobatin luka yang bahkan si orang itu ga tau kalo luka itu ada? Tahap awal move on bukan lah menerima kehadiran orang baru, tapi memaafkan masa lalu! Menerima terlebih dahulu takdir yang sudah digariskan, mengembalikan segala rasa seperti semula. 

Ya Allah, bagaimana ini apakah kali ini saya harus percaya bahwa semua laki lali itu sama? Bahwa semua laki laki memang hobi melontarkan kata kata manis untuk mencuri hati wanita yang padahal kata kata manis itu hanya di bibir saja? 

Padahal hati wanita itu bagaikan kaca yang mudah rapuh dan tersentuh tapi sering kali laki laki mempermainkannya hingga pecah dan tak dapat kembali lagi seperti semula. 



Read More

Rindu yang Tak Beruang

Sekian hari sudah dilewati tapi mengapa aku masih sama? Aku tak berubah. Aku sudah meminta, merengek, hingga terganti pintaku itu dari A, B, lalu C tapi belum juga dikabulkan. Tuhan masih ingin mengujiku, sedang aku mendekati kegagalan. Aku bingung, hati ini tidak tau mau apa. Dari sakit menjadi hampa. Dari hampa menjadi suka. Dari suka menjadi harap. Lalu harapan musnah, hati ini masih saja terus mengenang. Malu rasanya ketika aku menyadari rasa hati ini. Malu jika aku mengingat dia tak seperti ini, seperti aku. Aku berusaha membenci agar aku mudah melupakaan, tapi aku tak temukan alasan untuk itu. Tidak ada kesalahan dari dia. Tidak satu pun. Satu2nya yg bisa ku salahkan adalah dia terlalu berjuang saat itu, terlalu sering menghubungiku hingga aku sedikit lupa dengan konsep yg sedang ku jalani. Hati ini terpeleset hingga sedikit tersentuh dengan sosok dan caranya. Tapi, bukankah aku juga ingin diperjuangkan?




Hari itu aku berlari, berusaha sangat kencang, menjauhi semuanya tentang dia. Aku ingin meninggalkan semuanya. Bahkan aku berhenti mengucapkan namanya. Menghapus seluruh ceritanya. Menjauhi pembahasan tentang dia. Dan semenjak hari itu, tak pernah lagi ku lihat dia dimanapun kecuali sesekali tanpa sengaja melalui story whatsapp yang langsung buru2 aku lewati. Aku juga tak berusaha mencari cerita dia lagi. Aku berusaha keras mengontrol diriku. Tapi mengapa masih saja ada rasa yg tersisa hingga hari ini? Aku masih saja harus berlari. Bahkan ketika orang tuaku menanyakan tentang dia, mengingat tentang dia, pintu kesedihan dalam hati ini terketuk dan aku harus segera berlari semakin jauh lagi.

Aku tidak ingin jatuh hati kepada orang yg tidak tepat. Aku tau hati ini memiliki kesetiaan yang tinggi. Aku tak ingin kelebihan hati ini menjadi boomerang yang penuh duri. Hati ini rindu tapi tak memiliki ruang. Hati ini rindu tapi tak memiliki yang dirindukan. Aku tak ingin kejadian serupa terjadi lagi, dimana aku sudah melayang tinggi oleh harapan lalu terjatuh pada akhirnya. Aku menutup pintu hatiku, menolak siapapun yang mengetuknya. Terkadang aku mengintip dari balik pintu, aku ingin membukanya tapi aku teringat janji kepada Tuhan. Aku menghitung hari, menunggu hari itu. Hari dimana aku bisa membuka pintu dan siap menerima kedatangan tamu. Aku menunggu hari itu. Satu hari di tahun 2021. Semoga bisa terwujud, entah siapa dia yang Tuhan pilihkan, insyaallah tepat untukku. Aku percaya meski kini tak beruang, rindu ini pasti ada ujungnya.
Read More

PERNIKAHAN


Pertanyaan
Semakin hari semakin menyebalkan rasanya dengan pertanyaan orang-orang. Ada begitu banyak cerita mengenai gue tapi pertanyaan yang selalu menjadi trending topic saat ini adalah : "KAPAN NIKAH?". Nah, terus kalo udah dapet jawabannya lalu apa? apa yang akan mereka lakukan??????? meledek? nyariin jodoh? atau bersedia nyumbang dana di pernikahan gue nantinya?

Dalam hidup ada yang namanya privacy toh? Menurut gue privacy adalah suatu hal dari satu individu atau sekelompok orang yang bersifat pribadi dan bukan untuk konsumsi publik. Jadi, kenapa sih orang-orang bertanya tidak perlu menyinggung hal-hal yang privacy gitu. Pernah gue denger dari guru gue, orang barat kalo bertanya ke orang lain akan hindarin pertanyaan yang menyangkut privacy kek umur, status, dan apa yang lagi dia lakuin. Yap! Itu adalah hal yang privacy karena kamu tidak ada urusan dengan hal itu, kamu tidak berniat dan tidak bisa melakukan apapun kecuali atas izin dari yang punya privacy. Tapi ini adalah Indonesia yang sayangnya pertanyaan-pertanyaan semacam itu menjadi salah satu opsi ketika sedang berbasa-basi. Indonesia memang sangat mengenal budaya basa-basi.  Mungkin kalo relationnya udah deket banget gitu ga apa kali ya, nah yang terjadi sama gue adalah mereka gak terlalu deket, menurut gue, mereka bertanya hanya sekedar kepo aja gitu. Padahal masih banyak pertanyaan lain tentang diri gue selain status gue kan?

Saking banyak dan seringnya pertanyaan “KAPAN NIKAH?” gue sampe berpikir Emang jadi jomblo itu dosa ya? emang jadi jomblo itu haram?? emang jadi jomblo itu salah? emang jomblo = sampah masyarakat????? Pernah gak sih mereka berpikir orang selalu punya alasan untuk membuat suatu komitmen/prinsip di hidupnya. Masuk akal atau gak alasan itu, yang jalanin kan orang itu sendiri, selagi itu gak merugikan orang lain... kenapa nggak? Mungkin orang itu ingin mengikuti #teamtaaruf , mungkin orang itu punya trauma masa lalu, mungkin orang itu punya mimpi yang harus dicapai sebelum menikah, mungkin orang itu ada masalah lain yang apaka itu perlu di publikasikan? Terus ketika semua orang tau gue belum nikah dan jomblo mereka mau apa? Cariin gue jodoh? Mungkin itu niat baik tapi kembali lagi ke pernyataan gue sebelumnya: ALASAN. Jadi, please mulailah berhenti bertanya "kapan nikah?" "mana pacar kamu?" apalagi kalo gak deket sama orang yang ditanya itu. Hargai privacy orang lain mulai dari sekarang.

Pandangan
Oke, gue pribadi tentu punya pandangan sendiri dengan yang namanya PERNIKAHAN. Pernikahan bukan satu hal yang mudah seperti pengucapannya. Dari persiapannya, acara akadnya, dan kehidupan setelah menikah perlu pemikiran dan persiapan mental yang matang. Pernikahan adalah 1 komitmen yang harus dijaga seumur hidup, akan ada tugas tambahan yang wajib diemban sesuai kodrat gue sebagai perempuan disamping tugas sebagai anak dan karyawan di suatu instansi. Tugas tambahan ini adalah tugas yang sangat mulia. Gue akan menjadi pendamping imam gue, melayani dia dan ketika lahir seorang anak dari rahim gue, gue akan menjadi salah satu panutan untuk anak itu, dan tentu saja harus merawatnya. Gue wajib memperhatikan imam dan anak gue dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tidak hanya memperhatikan fisik, tapi juga mental. Terlihat sepele tapi itu tidak mudah.  Tapi, semua tugas itu adalah pahala buat gue.

Pernikahan itu tidak menyatukan hanya 2 orang saja, melainkan 2 keluarga. Pernikahan adalah penyatuan 2 keluarga yang berbeda. Keluarga adalah suatu organisasi yang ikatannya kental dan kuat, hubungan diantara tiap orangnya bukan lagi terikat dengan sekedar perjanjian, melainkan darah.  Itulah mengapa dalam pernikahan tidak cukup persetujuan dari 2 orang yang menikah saja. Semua orang dalam keluarga harus menyetujuinya. Apalagi ayah dan ibu dari masing-masing mempelai. Dalam suatu organisasi ketika merekrut orang baru atau ingin bekerja sama dengan organisasi lain pasti sangat selektif dan hati-hati agar organisasi mereka tidak berantakan.

Kesiapan
Ketika ada yang bertanya, “kamu sudah siap menikah?” yang gue pikirkan adalah....

‘Oke, menikah.... gue akan menjadi seorang istri. Setiap gue bangun di pagi hari akan ada suami di depan mata sebagai orang yg pertama gue lihat, dan ketika akan tidur malam suami akan menjadi orang yang terakhir gue lihat. 

Di weekend, setiap jam yang gue liat adalah suami gue. Setiap hari gue harus menyiapkan keperluan suami. Gue akan menyiapkan bajunya untuk kerja, menyiapkan sarapannya, menyiapkan sepatunya. Gue juga akan menyiapkan makan siangnya jika dia tidak mau jajan, dan menyiapkan makan malamnya pula. Gue akan membersihkan rumah, membereskan tempat tidur, mencuci pakaiannya, menyapu, mengepel, menyetrika pakaiannya. Ketika suami pulang, gue harus menyambutnya dengan senyum, melakukan apa saja agar lelahnya hilang. Menjadi pendengarnnya dikala sedang ada masalah. 

Ketika Allah memberikan gue anak, ya gue harus mengandungnya 9 bulan, melahirkannya, menyusuinya, merawatnya, mengajarinya tentang kehidupan. Apakah gue akan menghabiskan waktu hanya untuk mengurus keluarga? No! Gue juga harus mengurus diri gue sendiri seperti perawatan kulit, sometimes rambut juga. Gue harus tetap merawat tubuh sendiri. Gue juga harus bekerja, mencari uang sendiri. Yap! Semua itu harus gue kerjakan. Apakah gue siap?? Okei, sepertinya gue siap karena cepat atau lambat gue pun harus ada di kondisi seperti itu kan? Dan di umur gue sekarang, gue tidak menemukan alasan untuk bilang gak bisa. Mau sekarang atau nanti, yang namanya perubahan status pasti akan ada masa-masa beradaptasinya. Jadi apa bedanya? Apapun yang akan gue kerjakan ketika hati gue happy pasti tidak akan terasa berat. Jadi, apakah gue siap? Yes, gue siap.

Lalu ketika ada yang bertanya lagi, “bagaimana dengan ibu mertua?” yang gue pikirkan adalah....

‘Ibu mertua.... Sebelum memikirkan ibu mertua gue seperti apa, gue akan membayangkan bagaimana gue ketika jadi mertua dan anak gue laki-laki. Melihat menantu gue mulai mengambil alih kebiasaan merawat anak laki-laki gue, itu akan membuat sedikit kecemburuan. Gue yang merasa sudah mengenal dan mencintai anak gue bahkan sebelum dia lahir, akan memberi tau menantu gue everything about anak gue supaya dia tau how to treat him dengan baik dan benar. Tanpa sadar pasti gue akan mengguruinya. Apalagi ketika dia 1 atap dengan gue. Kalau dia melawan pasti gue tidak akan menyukainya. Iya sih memang betul apa kata ibu, menantu lebih baik tidak 1 rumah dengan mertuanya. Ketika tidak 1 rumah, maka everything is gonna be ok’

“Tapi gimana kalo suami kamu tidak bisa meninggalkan ibunya?”

‘Hm... jujur gue berat hati karena gue takut hal-hal di atas terjadi. Gue sama sekali tidak ingin memiliki hubungan yang buruk dengan orang tua. Tapi gue juga tidak bisa tidak mendukung suami gue. Dalam agama gue diajarkan bahwa laki-laki bertanggung jawab penuh terhadap ibunya seumur hidup ibunya itu. Jadi, gue akan mengembalikan semuanya ke suami. Dia yang punya tanggung jawab ini. Dia berani menikahi gue berarti dia berani bertanggung jawab atas gue termasuk kebahagiaan gue disamping bertanggung jawab pula dengan ibunya. Gue akan menuntut tanggung jawab dia, bagaimana caranya agar hubungan gue dengan ibunya baik baik saja, bagaimana cara mengakrabkan gue dengan ibunya. Menyuruh gue hanya untuk sabar sepertinya itu bukan solusi. Gue menginginkan solusi yang win win. Jadi, allahualam, semoga suami gue bisa mewujudkan itu’

Jadi, sekian curhatan gue tentang pernikahan. Semoga abis ini ga ada lagi orang yang mempertanyakan status gue. Karena gue sudah mulai lelah menjawabnya.

Read More

Klarifikasi Hijrah

Hai! Terimakasih udah mampir kemari, di blog yg ga seru dan ga penting ini. Hari ini gue mau bikin klarifikasi. Jadi, kemarin…. Oh, gak kemarin sih… mungkin beberapa minggu lalu gue nyobain fitur baru instagram Question sticker. Gue membuka kesempatan buat temen2 yang mau nanya ke gue. Bukan aatas dasar alay sih, karena gue sangat menyadari gue itu casingnya jutek sama orang yg ga terlalu dekat, apalagi kalo sama laki gue itu bisa dibilang galak. Sedangkan gue tau mereka kepo sama kehidupan asli gue yang memang jarang banget diketahui orang lain. Apalagi nij soal hijrah gue. Daripada mereka bikin kesimpulan sendiri kan, mending yuk mari tanya langsung ke gue. Daaan ternyata perkiraan gue betul, ada yg nanya soal kejombloan gue dan soal hijrah gue. Di sini gue menyadari, jika gue tidak pernah mencoba fitur ini mereka di luar sana yang tidak tau apa2 pasti berprasangka lain atas semua yg gue lakuin hmm… So, mulai aja deh yaa.

Lagi jomblo ya?
Ya! Mulai tahun 2016, mmm mungkin pertengahan 2016 gue sudah putus dari seorang laki-laki nun jauh di sana. Lebih tepatnya GUE DIPUTUSIN. Setelah hampir 4 tahun gue menangis, mengemis cinta, hina, dan mengorbankan prinsip serta harga diri gue hanya untuk seorang laki2 yang tidak pernah menghargai gue, dan selalu, selalu, selaluuu menyalahkan gue, GUE DIPUTUSIN!! Tapi dulu gue masih tolol, setelah diputusin gue masih berharap dengan laki2 itu. Gue masih suka menghubungi dia, curhat ke dia yang mana jarang bgt ditanggepin. Tapi akhir tahun 2017 gue bener2 sudah lupain dia. Sekarang gue 100% jomblo. Dan gue bertekad ga mau pacaran lagi, gue mau jomblo sampai halal. Doakan yaaa…

Kenapa ga mau punya pacar?
Karena saat ini gue adalah orang yang percaya kalo pacaran dalam islam itu HARAM. Jadi gue ga mau punya pacar, maunya punya suami. Pacarannya setelah ijab kabul. Gituu...

Kapan nikah?
Bicara nikah… sebenernya gue pengen nikah.  Gue siap lahir dan batin harus terikat dalam pernikahan. Apalagi ngeliat temen2 satu persatu udah pada tunangan dan nikah. Gue tau kehidupan pernikahan itu tidak selamanya bahagia. Ada suka dan juga duka itu pasti. Tapi gue yakin gue siap, menyerahkan diri gue untuk seseorang laki2 yang berani bertanggung jawab, pekerja keras, menyayangi gue, dan mampu membimbing gue di jalan Allah. Ya, gue butuh seseorang yg selalu ada untuk membantu hijrah gue ini. Lagi pula menjadi jomblo itu sepi. Sedangkan temen2 udah pada punya pasangan sendiri2. Kadang juga harus kuat hati di ledekin mulu sama temen2. Tapi ternyata orang tua gue tidak melihat kesiapan diri gue ini karena ya… menurut mereka umur gue masih terlalu muda. Lagipula gue punya 2 kakak perempuan yg belum menikah. Jadi keputusan akhir adalah gue harus menunggu sampai umur gue 25 tahun baru boleh melangkahi kakak2 gue ini jika mereka belum menikah. Btw, gue kelahiran 1996. Semoga 3 tahun lagi gue bisa langsung dipertemukan dengan jodoh gue. Seorang laki2 yang bisa bimbing gue… amiin 2021 nikah! Amiiiiin

Kenapa hijrah?
Semua berawal dari satu hari di tahun 2015 kalo ga salah inget ya. Hari itu bagaikan badai buat gue. Bangkai yang selama itu gue simpan rapat2 akhirnya tercium juga. Gue menangis dan menyesal. Seharusnya saat itu pacar gue menemani dan ikut berjuang dengan gue menghadapi masalah ini, karena dia ikut andil dalam. Tapi kenyataannya dia malah mutusin gue. Dia lari dari masalah, dan gue harus menghadapinya sendiri.

Gue putus asa dan hampir bunuh diri. Gue ga tahan lagi saat itu, super duper down. Satu sisi gue harus menghadapi masalah ini, dan di sisi lain gue sibuk memohon ke pacar gue supaya jangan mutusin gue. Untung saat itu ada 1 orang temen gue yang selalu ready menampung segala tangisan gue dan mengingatkan supaya gue ga bertindak gegabah.

Ga ada lagi yg bisa gue lakuin selain doa, 7/24 gue terus berdoa memohon bantuan Allah, memohon ampun. Sampai akhirnya masalah itu mampu gue lewati. Gue berubah, gue mulai menutup aurat gue, gue bertekad memperbaiki iman gue. Tapi mulai sejak itu juga, gue backstreet dengan pacar gue dari keluarga. Ini lah awal mula gue hijrah.

Setelah hari itu, gue masih merasa ada yg ganjil seperti akankah Allah mengampuni segala kesalahan gue, apa gud masih pantas berharap suatu hari bisa bersatu dengan pacar gue, dan lain lain. Tapi ketika gue mulai meniti jalan untuk hijrah, pacar gue justru ingin menarik gue keluar dari jalan hijrah. Alhamdulillah, kali ini hati gue lebih kuat untuk menolak segala godaan. Dan pada akhirnya dia mutusin gue. Terus terang gue kecewa sama pacar gue. Meskipun setelah putus gue masih betharap sama dia, tapi lambat laun gue menyadari 1 hal: pacar gue BUKAN sosok laki2 yang baik. Saat itu gue berada di tengah2 kebimbangan. Satu sisi gue berat meninggalkan dia, tapi satu sisi lain gue ingin punya jodoh yang bisa bimbing gue tapi… apakah mungkin? Bukannya perempuan yg baik untuk laki2 yg baik? Gue jauh dari kata baik. Entahlah, tapi gue terus meminta sama Allah supaya diberikan jodoh yang bisa bimbing gue dan meminta tolong untuk membersihkan perasaan gue ke mantan gue itu.

Akhirnya sampai pada suatu hari di tahun 2017 gue bertemu seseorang yg srlalu gue harapkan dari doa2 gue. Allah kembali menunjukan kasih sayangnya ke gue, subhanallah. Semenjak itu, gue juga berhasil menghilangkan perasaan gue ke mantan. Gue menemukan yang 100 kali lebih baik dari laki2 yang selama 5 tahun terakhir gue harapkan. Laki laki itu pun menunjukan keseriusan nya untuk mengajak gue taaruf dengan menemui ke dua orang tua gue. Dia tidak hanya berhasil mengambil hati gue, tapi juga berhasil mengambil hati ke dua orang tua gue yang sangat keras. Walaupun orang tua gue belum bisa mengijinkan gue untuk taaruf karena alasan yg sudah gue ceritakan di pertanyaan ssbelumnya, tidak apa. Allah Maha Baik. Gue yakin Allah punya rencana lain. Allah Maha Mengetahui waktu yg tepat buat gue. Ini lah yang membuat gue semakin ingin berhijrah, Allah terus menunjukan kasih sayangnya ke gue. Gue bisa merasakannya. Meskipun salah satu orang di keluarga gue berpendapat tidak semua yang gue pikir petunjuk dari Allah adalah real dari Allah. Bisa aja itu dari setan yang mencoba menggoda gue, tapi gue yakin ini semua murni campur tangan Allah. Semuanya karena Allah. Allah yang membuat bangkai yang gue simpan tercium sehingga gue bisa sadar dan kembali padaNya, Allah yang membuka mata gue bahwa mantan gue bukan laki2 yg baik, Allah yg sengaja mempertemukan gue dengan laki2 yang 100 kali lebih baik dari mantan gue. Allah itu Maha Penyayang.

Kenapa udah jarang pake gamis?
Iya, jadi salah satu langkah hijrah gue adalah mengganti style ootd gue dengan yg lebih mendekati syar’i. Kebetulan gue mulai langkah ini setelah dekat dengan laki laki yg ajak gue taaruf itu. Tapi, faktanya gue terlahir di keluarga yg masih tabu dengan istilah syar’i. Hanya gue yg mulai open minded sama syar’i. Temen2 deket pun banyaknya belum open minded sama syar’i. Jadi gue harus berjalan sendiri. Itu tidak mudah. Fakta lainnya adalah baju gamis itu harganya mahal sedangkan gaji gue hanya UMR. Beli yang murah eh bahannya tipis dan jelek. Jadi sampai saat ini gue cuma punya 3 potong gamis aja. Gue belum membeli lagi. Dan di tempat kerja gue yg sekarang, gue masih sungkan untuk pakai gamis. Takut diomongin juga sih hehe. Gue sih ada rok panjang gitu, rok syar’i, tapi cuma beberapa kali gue pakai karena tempat kerja gue itu di lantai 4 dan tidak ada lift. Gue sering banget keserimpet sama roknya waktu naik tangga. Jadi yaudah, seringnya pakai celana. Tapi gue sudah memfilter isi lemari gue. Baju baju yang terlalu menunjukan bentuk tubuh sudah gue singkirkan. Dan cara pakai kerudung gue sekarang seringnya menutup bagian dada kok :) bukan lagi yang diikat ikat ke belakang leher. Gue tau akan ada yg berpikir “kan bener danti pakai syar’i karena lagi deket sama si A aja, pas gagal taaruf balik lagi deh”. Tapi yaudahlah ya, anggep aja mereka netizen yg bisanya cuma komen. Harusnya mah bantu beliin gue baju syar’i gitu ya ketimbang komen atau berprasangka buruk hahahaha.

Nah, sekian deh klarifikasinya. Jadi gitu alasan alasan gue mengenai hijrah. Gue tetap berusaha hijrah kok apapun keadaannya. Tapi mohon maaf gue cuma manusia biasa, gue ga bisa langsung sempurna. So, daripada mikirin hijeah gue mending tanya dulu ke diri kalian, kapan nih mau hijrah? :)
Read More

Social Profiles

Twitter Facebook

Cari Blog Ini

Emoticon

Popular Posts

Categories

Total Tayangan Halaman

Follower

Copyright © Swand-dan room | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com